Saturday, June 28, 2025

The Truth

What happens when people face the truth? They cringe. They deny it. They avoid it. Because they know that they don't have capabilities to face their own pain. And yet their pride gets in the way. 

I came from a dysfunctional family with a hard patriarchy system. My mother has Life Path number 1 -- which makes me embrace the love-hate relationship with her.

Life Path number 1 has their uniqueness of leadership. In other way, they have this kind of stubbornness that makes me want to strangle them so hard. Well, it happens with my boyfriend too. Haha.

My father is a NPD. Yup the one with personality disorder. The one that you'd like to punch in the face. My brother -- well I hardly know him aside from him sitting consistently in front of his desktop. 

So can you imagine how struggling I am to face this toxicity every day? 

With LP1, my mother has tendency to ignore someone else's opinions. Including when I'm stating my boundaries.

I've been having cold and very weak for these past few weeks. My body barely catches up with me. Let alone engaging in such as house chores or activities. When I stated this to my mom, that I want to have my recovery time in a timely manner, she kept resisting. It's like she doesn't want to understand with what I've been through. She does this every time!

I told her that I'm not a machine and my body needs full recovery and requires delicate rest. I even tried to sing yesterday! Because I know that singing has been linked to the vagus nerve system (MY vagus nerve system!). Thank God it worked!

And... you know what? She got offended! I'm being punished for being true and blunt. Now you know why I told you that I came from a dysfunctional family, right?

Screw them. It's not like I'm gonna be with them forever. 

I just thought: If you cannot accept me from being authentic, then you're not the right person for me. And I don't care if you are my own family.

I don't want to sacrifice my mental health for the sake of someone else's problems!

Sunday, February 11, 2024

drama

Aku berasa capek dengan drama yang dibikin sama temen-temenku sendiri. Yang foto muka minta di-blur lah, apa lah, tanpa penjelasan yang jelas.

Yang dikasih tahu nggak ngerti-ngerti kalau itu salah lah. Yang sok-sokan ngerasa deket trus berasa bisa bebas minta duit lah. Ada juga yang berasa bisa sok-sok ngatur hidup aku.

Aku kadang bingung. Nggak bisa kah aku punya teman yang normal? Yang satu frekuensi? Yang bener-bener bisa nerima aku apa adanya?

Sunday, January 14, 2024

The Fear and The Worry

I used to be in masculine energy. I was a masculine energy woman. I’m used to building the defense wall so high, so I can’t get hurt. 

Dan belakangan ini luka itu terbuka kembali. Luka di mana aku merasa seperti diinjek-injek, nggak dihargai, nggak diprioritaskan. Aku jadi supermarah sama cowokku sendiri. Dia bahkan mungkin kebingungan dengan sikapku.

I can’t blame him. Aku sebenernya sumber masalah dari semuanya. And, yes, pain changes people, including me. 

Aku terbiasa dengan pola “unseen” dan “unheard”. Aku terbiasa selalu ditinggal oleh orang yang aku sayang setiap kali ada masalah. Jadi begitu cowokku ngasih aku “safety space” yang begitu luas, aku merasa nggak familier. It feels so weird.

Perasaanku selama ini yang nggak pernah dihargai, dilecehkan, diremehkan, membuat aku terbiasa “menyerang”. 

Aku merasa kayak nggak layak ketika menyadari sebegitu sayangnya cowokku sama aku. Aku nggak mengira aku bisa sebegitu leluasanya mengungkapkan kegelisahan dan kemarahanku tanpa membuat dia pergi. Tendensi aku adalah selalu mendorong orang yang aku sayang pergi, karena aku selalu merasa nggak layak disayang. 

Kemarin itu aku udah siap kalau cowokku ninggalin aku. Karena aku familier dengan pola ditinggalkan. Aku udah pasrah kalau hubungan ini gagal lagi. 

Tapi cowokku stay. Dia nggak ke mana-mana. At least untuk saat ini. Bukannya aku mau dia pergi. Aku mau dia ada. Dan aku bersyukur banget dapat cowok seperti itu. Tapi ada bagian dari diriku yang masih menangis, nggak ngerti kenapa dia bisa sesayang itu sama aku. Aku yang nggak sempurna ini. Aku yg rusak ini. I’m a broken person. I used to be the broken pieces. I have wounds. I have traumas. 

Aku memang harus belajar tentang diriku sendiri lebih dalam lagi. Dan aku bersyukur kepada Allah, aku diberi kesempatan untuk aware dan bisa inisiatif memperbaiki ini semua saat ini. 

Mudah-mudahan aku bisa menjadi pribadi yang lebih baik ke depannya. Mudah-mudahan memang cowokku sekarang adalah pasangan yang terbaik yang bisa mendampingiku sampai jannah. Aamiin.

Monday, November 27, 2023

Create My Own Happiness

Ketika aku merasakan kesepian akhir-akhir ini, yang menurutku entahlah, terlalu membuatku terusik, aku seperti mati gaya. Sebuah hal yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya.

Aku biasanya memahani kesibukan cowokku. Memang setiap akhir tahun dia akan berkutat dengan seribu kegiatan audit yang melelahkan. Untuk kali ketiganya aku menemaninya, ini terasa lucu buatku. Karena biasanya aku tidak terlalu mempermasalahkan hal-hal seperti ini, tapi sekarang terasa lebih... dalam aja. Apa karena aku mulai merindukan intimasi? Atau aku mulai merasa lelah? Aku mulai ingin mengontrol?

Akhirnya aku merenung dan mencoba introspeksi, mungkin ini salah satu fase di mana aku harus menerima fakta bahwa aku harus bisa membahagiakan diriku sendiri. Tanpa menggantukankan kebahagiaanku pada pasanganku. Apakah ini salah satu defense mechanism-ku? Am I being in denial?

Aku sudah mencoba mengkomunikasikan ini dengan cowokku dan sepertinya dia belum bisa memenuhi keinginanku 100%. Kadang aku mulai mempertanyakan kembali keseriusannya. Kadang aku dilema.

Kedilematisan inilah yang kadang aku lepaskan dengan cara meditasi. Aku ingatkan diriku sendiri bahwa tidak ada yang abadi di dunia ini. Mungkin saja Tuhan sedang menguji, sejauh mana "kemelekatan"-ku pada pasanganku sendiri. 

Aku juga sedang mengalami kekecewaan yang membuatku meragukan diriku sendiri. Aku benci dibanding-bandingkan. Apakah membahagiakan keluargaku itu tidak boleh memakai caraku sendiri? Haruskah aku memakai standar orang lain? Apa dia tahu kondisi keluargaku yang sebenarnya?

Kekecewaan berlapis yang aku rasakan ini semakin memuncak seiring selesainya cutiku. Bukannya merasa terhibur dengan liburanku, aku malah menambah beban pikiranku sendiri. Lagi-lagi aku menenangkan diri dengan meditasi. I really need it. To restore my sanity.

My life's not perfect, but I completely grateful for it. And I think it's more than enough. God's given me much I can't be more blessed. 

Monday, November 20, 2023

My New Tasks

Aku nggak pernah menyadari kalau ternyata tugasku berada di dunia ini tidak se-simple itu. Tugas yang membuatku banyak berkontemplasi. 

Kontemplasi dan PR-PR yang tidak berkesudahan alias shadow work.

In order to do that, aku bermeditasi. Aku punya keinginan sederhana -- reprogram my DNA. Dan meditasi adalah salah satu jawabannya. 

Kedengerannya gampang ya? "OK, aku tinggal meditasi terus DNA-ku berubah!" 

Ternyata enggak sodara-sodari! Meditasi itu melibatkan banyak aspek. Baik secara emosi, psikologis, mental, bahkan keberanian. Keberanian apa? Keberanian menghadapi ketakutan dan insekuritimu sendiri. Yes, even you need a courage to face your own fear and insecurities. Dan itu sangat tidak mengenakkan. Kenapa? Dengan bermeditasi, semua luka-luka batinmu dikelupas selembar demi selembar. Luka-luka di masa lalu yang tidak pernah diproses, diakui. Muncul satu per satu.

Aku sendiri berjuang menghadapinya dan harus sanggup merasakannya sampai selesai. Proses ini yang membuatku kadang suka susah membedakan dengan realita yang aku punya di depan mata. Tapi ini pula yang harus aku hadapi demi menyelesaikan PR-PRku.

Lucunya, begitu selesai kuproses, aku seperti terbangun dari tidur yang panjang. Menyadari bahwa aku baru saja menyelesaikan PRku. 

Aku sudah merasakan menangis, kecewa tapi tidak bisa berkata-kata, cemburu, resentment, dan baru-baru ini kesepian. Ternyata itu semua hasil dari luka-luka yang aku alami selama ini. 

Dan yang seperti ini katanya mau dipaksa dibuka sampai chakra mahkota. --"

No wonder mereka bilang kalau sakitnya bakal dobel-dobel. Aku buka selembar demi selembar aja udah overwhelming. Gimana kalau dibuka paksa? 

Tapi di satu sisi aku bersyukur. Karena aku diberi kemudahan untuk mengakses proses ini. Perbedaannya adalah, aku mengalami sedikit sekali "zona error" atau sindrom-sindrom yang dijabarkan jika mengalami proses ini. Mungkin kalau manusia lain, sudah mengalami hal-hal ekstrim yang tidak mengenakkan. 

Kadang kalau membenahi luka itu sudah lewat, aku seperti malu sendiri. Mau cerita ke cowokku sendiri juga nggak enak (tapi biasanya aku tetep akan cerita sih). Karena ya faktor tadi, aku seperti nggak bisa membedakan antara emosi negatif yang sedang kuproses dengan realita di depan mata. 

Untung aku punya cowok sabar banget ya? 😇

Hopefully I can carry on my spiritual journey in the best way as possible. ❤

Monday, May 30, 2022

Aku pilihnya dia

Godaan emang ada aja.

Padahal aku maunya dia. Bukannya apa-apa. Satu, aku udah merasa “click”. Dua, aku merasa dia bisa mengimbangi sifat aku, and vice versa (justru INI yang paling penting!). Tiga, aku merasa ada gol-gol di hidup ini yang bisa aku achieve, kalau barengan sama dia. Nggak bisa sama yang lain. HANYA dia. Dan aku YAKIN banget, dia bisa bahagiain aku. 

Memang kalau orang bilang, banyak pilihan A, B, C. Tapi aku tetep maunya dia. Aku udah nggak mau yang lain. 

Pokoknya aku maunya sama dia! 

Wednesday, May 25, 2022

Mau nangis aja rasanya

Aku ngerasa capek banget sama kerjaan. Aku tuh aslinya nggak pengen ngeluh tapi aku udah nggak tau mau ngomong sama siapa lagi. Punya temen kok mulutnya nggak ada yang bisa diandelin untuk keep secret.

Di kerjaan juga aku ngerasa kayak dimanfaatin banget sama bosku. Dia dapet kerjaan yang gede-gede, aku disuruh ngurusin yang printilan. Aku ngerasa kok kayaknya nggak ada kemajuan. 

Aku udah nggak tau mau gimana lagi. Rasanya mandek semua. Badanku juga belum terlalu sehat. Aku masih rada lemes. Nggak tau deh. 

Udah males mau ngapa-ngapain rasanya. 

Monday, May 9, 2022

Kok lama-lama pegel?

Aku mulai pasrah deh.

Kesel iya. Sebel iya. Kayaknya udah berusaha sabaaaar banget. Ya udah sih. Si cowok ini memang katanya tertutup banget. Udah gitu semua kayaknya ikut-ikutan nutup-nutupin.

Aku heran. Serius. 

Dia sakit, diopname. Trus sebagai teman aku nggak boleh jenguk ya?? Asli. Aku dianggap kayak orang asing banget ya?

Dan dulu aku pernah ngalamin hal seperti ini juga. Dan aku lama-lama pegel. Karena yang di sana nggak mau terbuka sama aku. Trus aku ini mesti gimana?

Aku mikirnya dari kemarin cuma gini. Simple.

Aku tuh temen sma dia. Sesusah itu ya tinggal ngobrol kayak biasa, kayak ke temen-temen sma yang lain? Am I totally a stranger to you??

Hari ini juga digituin lagi. Dia di sana di-protect banget. Aku udah kayak orang bego, mau jenguk dia aja nggak dibolehin. Ini yang bikin pegel.

Ini yang bikin aku ngerasa di-reject. Bikin anxiety aku kumat. Capek. Asli.

Kalau lama-lama aku masa bodoh trus gimana?

Ini aku pegel loh kayak gini terus!

Friday, May 6, 2022

Matters in Life

Aku tuh capek banget deh.

Memang sih, lebaran nggak ke mana-mana. Aku cuma capek dengan situasi di mana teman yang kuanggap deket nggak ngucapin selamat lebaran dong? Kalau kayak gini kan orang nganggepnya aku yang aneh. Atau balikinnya, “Ya udah, elo aja yang ngucapin duluan.” 

Tapi makasih, enggak deh.

Aku sedang berada di fase nge-filter teman soalnya. Mana yang bener tulus mau temenan sama aku, atau cuma mau kepo doang. Yang kepo itu biasanya kalau ada maunya aja, baru nyari aku. 

Yang kadang bikin bingung ya, kok bisa-bisanya ada yang berani minta duit ke aku padahal aku nggak ada hubungan sodara sama dia. Sementara dia katanya punya bisnis bagus dan anak-anaknya katanya pada kerja di luar negeri. Kan bisa minta duit sama anak-anaknya dong?

Belum lagi, ada yang hobinya ngomentarin dan nyuruh aku supaya hidupku begini-begitu. Padahal dia sendiri ngendon di rumah nggak jelas. Cukup control freak juga. Negatif banget juga.

Ada juga temenku yang hilang entah ke mana. Tapi nanti kalau dicari, alasannya ini-lah, itu-lah. Kok kesannya kayak dia doang yang bisa sibuk. Yang lainnya pengangguran nggak jelas. Aku sih mikir mana ada orang sesibuk itu sampai nggak punya waktu untuk ngebales message. Aneh.

Yang terakhir kemarin anxiety-ku kumat. Karena aku nge-DM my favorite person. Ceritanya aku mau ngucapin selamat lebaran. Entah kenapa jawabannya terkesan “dingin” dan aku langsung ketakutan. Aku mundur teratur dan pergi. Entah kenapa jawaban dia men-trigger sesuatu di masa lalu yang seolah seperti muntahin kalimat, “Lu siapa sih? Lu nggak penting buat gue.” Dua hari aku nangis nggak karuan di kamar gara-gara ini. Aku takuuut banget ditolak. Takuuut banget dia nggak mau sama aku. Padahal aku udah sayang sama dia. Aku udah sampai di titik pasrah sama Allah. Aku udah nggak tahu mau gimana lagi soalnya. Aku mikir kalau emang kami berdua jodoh ya nanti bakal bersatu juga. 

Ya Allah, ampun hamba-Mu yang terlalu penakut ini.

Kalau udah begini aku banyak istighfar dan berusaha untuk mensyukuri keadaan. Jadi supaya aku nggak berada di titik low vibration. Aku emang kerasa banget labilnya. Di samping aku juga lagi pms. Ngeselin deh. Jadi sering senewen sendiri. 

Semoga ini cepat berlalu ya. 

Sunday, March 6, 2022

Kapabilitasku

 

For a whole life, aku baru menyadari bahwa aku sebenernya punya potensi untuk lebih baik, termasuk dalam bidang akademisi. Tapi ternyata gairah aku untuk mencapai achievement setinggi itu, nggak ada. Kenapa? Mungkin karena aku lelah menjadi orang yang ambisius dan kompetitif.

Aku pernah mengalami yang namanya mendapatkan nilai 9 secara konsisten di matpel Bahasa Inggris waktu SD, dan matpel Sejarah waktu SMP. Hasilnya? Aku stres.

Aku seperti dihadapkan pada tekanan yang tidak berkesudahan, jadi pada akhirnya aku memutuskan untuk "mundur" dari dunia persaingan di sekolah dan memilih untuk menjadi biasa-biasa saja. 

Otakku sendiri sudah cukup penuh. Jika diibaratkan dengan kota megapolitan, otakku ini penuh dengan kebisingan dan semua bergerak dalam waktu yang bersamaan ke arah yang berbeda-beda. Jadi kalau aku ingin memfokuskan pikiranku kepada sesuatu (contoh: belajar), aku harus berani "menarik" satu benang di antara tumpukan benang kusut di dalam otakku dan menariknya ke materi yang ada di hadapanku. Dan itu cukup membuatku pusing. Yang pada akhirnya membuatku... malas. Respon "fight or flight" yang aku ambil: flight.

Ini lah sebabnya aku malas belajar, atau belajar menyelesaikan sesuatu dengan serius. Karena aku merasa "berat" menarik benang yang ada di dalam otakku dan menatanya menjadi sesuatu yang rapi dan konsisten. 

Ini lah sebabnya aku senang tidur. Karena otakku yang aktif, ibarat komputer, otakku susah sekali "shut down". Bahkan ketika tidur saja aku bisa merasa "bekerja", hingga terbawa mimpi. 

Ini yang membuat orang tuaku berpikir, bahwa aku itu tidak lebih pintar daripada adikku. Dan selama seumur hidupku, aku membiarkan mereka berpikir seperti itu. Karena hidup di bawah tekanan ternyata membuatku tidak santai menjalani kehidupan. Ini juga yang membuatku "bandel" dan senang bolos sekolah atau kelas saat kuliah. Karena menurutku membolos itu menyenangkan, dan belajar itu membosankan.  

Itu lah sebabnya aku memilih untuk berhenti kursus gitar klasik. Itu lah sebabnya aku tidak mau meneruskan kursus pianoku. Itu lah sebabnya aku nggak suka mempelajari ekonomi dan akuntansi. Karena aku nggak punya motivasi. Dan menurutku, sepertinya sudah tidak ada lagi tantangan buatku di situ.

Seandainya saja dulu orang tuaku tahu cara menangani kemampuanku, mungkin aku jauh lebih berprestasi daripada adikku. Tapi saat ini aku sudah tidak mau berandai-andai sih. Karena aku sudah cukup bahagia dengan keadaan dan prestasi-prestasi yang aku capai sejauh ini.

Mungkin di ke depannya, kalau aku punya pasangan hidup yang full support dan mengerti kondisiku ini, bisa jadi aku belajar untuk lebih serius dalam mengerjakan sesuatu, dan belajar "menarik" benang dari otakku tanpa merasa harus "lari" dari sesuatu di hadapanku.

Mungkin suatu hari aku akan benar-benar belajar dan menghargai proses belajarku sehingga bisa meraih full achievement. Siapa yang tahu?

Sunday, February 20, 2022

Tired Of Family Drama

 

Aku udah muak sama semua ini. Pengen rasanya keluar dari rumah. Udah capek sama drama keluargaku yang nggak berkesudahan. 

Aku lelah jadi boneka di rumah ini. Dibodoh-bodohin segala macem. Kecewa setengah mati. Aku berharap suatu hari nanti aku bisa fokus mengurus keluargaku sendiri -- suami dan anak-anakku, tanpa harus mengurus keluarga lamaku. Aku udah capek. Lelah.

Udah gak ada yang bisa diharapkan. Sampai kapanpun aku cuma kayak orang goblok di keluarga ini. Dianggap bukan siapa-siapa. Mau sekeras apapun aku berusaha. 

Screw this. Sick of this b*llshit. Aku udah gak mau peduli lagi sama keluarga ini.


Friday, December 31, 2021

When the love grows...

Beberapa hari ini aku berpikir agak serius... Tentang semua yang udah aku alami selama 2021 berjalan.

Dan, ya, ada beberapa hal yang aku sesali dan itu tidak bisa aku tarik kembali. Aku juga menyesali beberapa kebodohanku yang mungkin akan jadi pembelajaran besar selama hidupku.

That mistakes have been done and there's nothing I can do about it. All I can do is move forward and have the lesson learned for the rest of my life.

Dan... seperti yang udah kalian baca di blog-ku sebelumnya, aku sedang menyukai seseorang. Well, agak lucu sih sebenernya kalau aku bilang aku menyukainya, because I haven't met him in more than 20 years. And yet I feel so close to him. As the days getting by, aku ngerasa kayaknya kok makin lama makin sayang sama dia. 

Mudah-mudahan ini semua bisa bergerak menuju ke arah yang lebih baik. I hope so. Aamiin.


2022, please be kind.

Tuesday, December 14, 2021

Sibling problem??

Jujur aku kecewa dengan adikku.

Dia itu anak laki-laki dan harusnya bisa lebih tanggung jawab dengan sikapnya. Jaga ucapannya. Jaga emosinya. 

I never thought that I would be this disappointed with my own brother, much less having a big argument with him.

Dari mana dia bisa berpikir bahwa hidupku enak? Emangnya dia tahu kalau aku udah mengalami pahit segala macem tahun ini? Emangnya dia tahu gimana perjalanan aku di kantor? Gimana perjuangan aku untuk bertahan selama ini?

I've been trying so hard to keep up with my own problems, struggling hard enough to return my sanity over everything. And yet my own brother judges me and blames me for not being a good person. 

I may not be a saint, but I want to be the best that I can. I want to keep doing good things. 

Semoga saja pintu hati dan pikiran adikku terbuka. Semoga saja dia segera 'matang' dalam berpikir.

Sunday, December 12, 2021

Dilema??

By the time aku posting kemarin, tau-tau dia bikin status di insta story. Awalnya aku pengen jaim, eehh malamnya ya keteken juga. 

Aku baru sadar dia pake kemeja warna biru gelap... which is... bikin dia keliatan super-cute! 

Aaarghh siaal... dilema berkepanjangan deh.

Sekali-sekali bales kek whatsapp aku. :(

Saturday, December 11, 2021

I have no value?

Aku kebingungan.

Aku pikir aku bisa melakukannya. Ternyata aku masih bertanya-tanya sampai sekarang. The guy. Yup, masih cowok yang sama yang aku bahas terakhir, masih tidak meresponku.

I'm wondering if he considers me as a woman with no value? Seburuk itu aku ya?

Mungkin standarnya dia terlalu tinggi sehingga menganggap aku bukan siapa-siapa. Jadi mungkin sebaiknya untuk saat ini aku mundur dulu aja.

Aku sih tidak bermaksud mengejarnya. Aku cuma pengen dia notice kalau ada aku nih di sini. Tapi sepertinya aku memang harus menyerahkan semuanya sama Yang Di Atas.

Kalau memang untuk aku, ya dia akan untuk aku. Gitu aja.

Sunday, November 28, 2021

Kehilangan

 I just lost one of my team members yesterday and it was quite devastating.

Aku nggak pernah terpikir bahwa bawahanku ini bisa mempunyai kisah cinta yang sedih seperti ini. Kinerjanya sudah menurun sejak istrinya meninggal tahun lalu. Setelah aku bicara dengan anaknya kemarin, aku langsung menyadari bahwa he was brokenhearted and overwhelmingly lost in his mind. Dibalut dengan rasa bersalah karena tidak memenuhi tanggung jawabnya sebagai seorang suami, dia sampai rela kehilangan nyawanya untuk bisa menyusul istrinya ke akhirat.

Don't you think it's like a tragic love story? 

I learned a whole new level for love and responsibility as a husband and wife from him. Bahwa ternyata untuk menjadi suami dan istri itu nggak cuma melulu sekedar kelihatan ke mana-mana berdua, trus bikin anak, trus keliatan mewah dengan segala materi yang ada. Tapi memang tanggung jawab yang diemban benar-benar dibawa sampai ke hadapan Yang Maha Kuasa. Dan kurasa bawahanku ini sadar.

Aku rasa dia pengen minta maaf sama almarhum istrinya, menyadari kesalahannya dan tidak bisa memenuhi tanggung jawabnya dengan baik, pengen nangis senangis-nangisnya. Aku bahkan nggak bisa ngomong apa-apa lagi. Bingung.

Saat ini aku cuma berdoa semoga almarhum diberikan ketenangan di sana, diampuni segala dosanya, dan terkabul doanya untuk bisa ketemu dengan istrinya lagi dan meminta maaf sama istrinya. Al-Fatihah.

Saturday, November 27, 2021

Senyumnya :)

Hari ini aku bersyukur karena masih diberi kesehatan yang baik, keluargaku juga sehat, kucingku sehat. Alhamdulillah...

Ada sih satu hal yang bikin aku agak lega. I've been paying attention to this one guy. Yup. The same guy that I've talked about in my last post. 

Waktu di postingan sosmed dia yang terakhir, he wasn't exactly what I call 'smiling'. Padahal lesung pipinya itu loh, yang bikin aku jatuh cinta. xD Tapi untungnya di salah satu status postingan dia akhir-akhir ini, aku ada ngeliat foto dia sedang tersenyum. Aku seneeeng banget ngeliatnya. Alhamdulillah... akhirnya dia tersenyum juga. 

Walaupun saat ini cuma bisa meratiin dari jauh, seenggaknya aku tahu dia hepi. Kalau dia udah bisa senyum seperti itu, udah cukup buatku untuk ikut seneng juga. Tapi mudah-mudahan aku sama dia bisa segera ketemu ya. :)

Keep smiling ya... :)

Sunday, November 21, 2021

Self-esteem Awareness

Setelah sekian lama, aku baru menyadari kalau aku tuh dulu pernah mengalami masa-masa di mana aku tuh sangat... sangat tidak percaya diri. It was like a gazillion years ago but I can think of it at the back of my head clearly.

I was super-defensive back then. And very competitive. Lucunya, aku tuh super-gak pede juga. I was born and raised di lingkungan yang di mana strata dan materi itu penting. Tanpa itu semua, kamu bukan siapa-siapa. Dan itu menciptakan sebuah tekanan tersendiri buatku.

Belum lagi karakter bapakku yang super-strict about everything. Aku masih inget banget sampai sekarang kalau aku udah nggak dibolehin nge-band pas udah kelas 3 dan itu rasanya sediiiih banget. I love music and band was my life. Aku agak lumayan terpukul juga sih.

Move on from music topic. Sikap dan tingkah lakuku yang super-defensive itu masih terbawa sampai kuliah, karena kebetulan aku juga masih satu kos dengan anak-anak satu sekolahku dulu. Jadi aku bener-bener super-nyebelin saat itu. Bener-bener egois.

Sanpai aku merasakan masuk ke dunia kerja, di mana aku merasa mulai dianggap "orang". Maksudnya, aku nggak perlu merasakan tekanan bahwa aku harus kelihatan hebat, pintar, atau dapat nilai lebih bagus dari si A, B, dan lainnya. Aku hanya perlu menjadi diri sendiri. Yang aku sadari saat itu adalah: aku bisa melakukan itu semua tanpa harus usaha banyak. Effortless.

Maksudku begini. Aku baru menyadari dunia itu sangat luas ketika aku melihat banyak sekali manusia yang mempunyai skill atau kemampuan tidak sebanyak yang aku punya, tapi mempunyai rasa percaya diri yang tinggi dan lebih songong daripada aku. LOL.

Hal itu membuatku seperti, "Apaan sih? Biasa aja kali." 

Tapi itu juga yang membuat aku tersadar, "Eh kalau mereka yang punya kemampuan lebih kurang dari aku tapi lebih pede, kenapa aku yang punya kemampuan lebih banyak daripada mereka tidak bikin aku lebih pede juga?" See the concept here?

Aku yang bisa ini-itu, harusnya bisa lebih pede dong daripada mereka? Aku juga belajar untuk mensyukuri nikmat yang udah aku terima dari Allah. Do the best that I can.

Ini yang membuat aku bisa "gas" terus sampai sekarang. Karir aku udah bagus. Gelar ada. Pencapaian-pencapaian yang aku inginkan satu per satu terpenuhi. Kecuali masalah jodoh.

Di sini lah poin lagi yang aku harus garis bawahi untuk diri aku sendiri. Aku masih belum pede. Aku merasa belum pede untuk ngedapetin pasangan hidup yang aku mau. Aku merasa belum deserve dia. Padahal mungkin dia udah nunggu di luar sana untuk diklaim sama aku. Dan mungkin dia juga merasakan hal yang sama. 

Ini PR besar buat aku. Aku harus merasa bisa bener-bener "layak" untuk mendapatkan suami yang seperti aku mau. The fear has  been capturing me in its cage for so long, I forgot how to get out. I feel miserable but I was quite enjoying it. Itu masalahnya. Aku nggak boleh merasa nyaman dengan rasa miserable itu. Aku harus keluar dari situ. Aku harus yakin bahwa aku berhak bahagia. I deserve someone who can make me happy and vice versa. 

Alhamdulillah aku udah menyadari kekuranganku ini. Alhamdulillah aku sudah belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi dan layak mendapatkan pasangan hidup yang aku mau. Mendapatkan pasangan hidup yang layak satu sama lain. We deserve each other and can make each other a better person.

Saturday, October 23, 2021

Another Phase

The design of life has been unfriendly to me lately.

Today I remember someone who could've just said the most terrible thing to my face, "You are a nobody."

It kept echoing inside my head. Over and over again. I felt useless. Hopeless. I was crying and weeping. I got no one to hold on to.

You know when there is one reason that you should stand for, which is to be someone who can give out to others, instead, you've been acknowledged as a burden to someone else's life. You didn't even get admitted to be a part of their lives. Ever. Can you imagine the heartache that I've had recently?

I even failed to attract one guy that I think the most gorgeous guy I've ever seen in life. Well, yeah, I tried to talk to him. I messaged him and I kept doing the wrong things. I didn't know what to do anymore. I feel I'm like being cursed. Am I being cursed? Why am I so unfortunate in this relationship thing? Why? 

This guy... he's attractive, he's smart, funny, he's good looking. He has good taste in music as well (which is a plus for me!). And I know for sure that we can be a good partner. He also has boundaries over principles that he knows not to cross over with. And I think that's sexy. Well, the thing is, I just kept doing this thing over and over again. I cannot even sure if he's attracted to me, or not. I felt stupid. 

I didn't mean to complaint, or brag something that I know I shouldn't brag. No. I just... simply don't know what to do.

People often mistaken my being picky over a guy who will later being my partner-in-crime for life. Maybe I should be picky. Maybe? Maybe not? Beats me.

I even tried to call some of my friends and they think that I got arrogant enough for not saying 'yes' to their invitation to go outside. It's not that I don't want to. I don't have any vaccination card that others have to get the access to go everywhere. I'm not sure that I can go anywhere, even I want to.

Maybe I'm also a bad friend? Great, now the more I'm thinking of it, the more panic that I get in my head. Am I a screwed up?

D*mmit.


Sunday, October 17, 2021

Lost

I'm crumbled.

I just felt like writing this thing is totally unachievable. In order to make my feelings better, maybe? Or maybe not.

Writing this in Sunday afternoon makes me like... wanna throw up.

I don't even know where to begin.

I feel like a failure. What's there to see now? In these past few months, I learnt that I need to let some things go. Some things that are not meant to be. Even it's hard for me to admit it, it's just there.

I fell for a wrong guy. Two, actually. The one that came from the past, and the other one was just simply... a mistake.

I screwed up big time I didn't how to fix it. I almost thought myself into a suicidal act. 

I got depressed. I made mistakes. Terrible mistakes. And I'm scared. It was totally out of control. I even went to psychologist, just to see if I could find my solution there. Yet, I still felt empty. 

I didn't want to do to all the favorite activities that I used to love -- music, reading some books, watching Netflix. I simply got numb. This is the second time the depression attacked me.

At first, when I knew that the second guy only took me for granted, then I ran back to the first guy, which I thought that he could be supporting me, and cheered me up. Instead, he left me again. Alone. 

I felt like hitting the rock bottom. Twice. It's hard for me to climb up, not in my condition. 

For days, I've been trying to figure out things. I tried to restore all of the balance that I've lost. I tried to regain my confidence, my dignity, my pride, and else. 

I feel like a loser. A total loser. I kept telling myself if I could ever get through this. Or if I should just end up my life instead? Don't you think it would be much easier, so I won't be a burden for everyone around me, anymore?

Throughout my years of life, I never thought that I would go through this. I feel like there's a bidding war inside me, will I end up my life or should I just move on and pretend nothing has happened?

Actually, I cannot pretend that it's not happened. I have to admit that it's hard for me. It's hurting me as well. I have to admit that I'M NOT OKAY.

I simply don't know what to do. And that's okay too. I finally realized that my overthinking (up until now) still gets the best of me. It's okay to not know the answer today. It's okay to just move on.

Maybe for some people, it's only gonna take weeks. For others, maybe months. Or maybe for me, years? I don't know. No one knows. I just need to take a courage to make a first step to move forward. 

Maybe, I just need to fly away the white flag for myself. I have to make peace with me. Maybe I need to learn that there are some things that I cannot control. And I just need to let them go.

I know. It's hard for me too. But I gotta do what I gotta do. I believe that everything happens for a reason. Even you don't know what that is now, you'll know it in the future. God has arranged it all for all of us. He knows what's best for us. Although maybe it's hard to be accepted by our logical minds now, but trust me, it's for the best.

Being heartbroken, or ghosted, or rejected. All those pains, it'll go away. Maybe not now, but it will be getting better in time. The pains -- they are gonna make you stronger that you never thought about it in the first place. 

I know for some people, the ego said that "I'm way much better, I don't wanna cry for that man!" or "I'm a strong woman, I can do this!" And believe me, you will! But that doesn't mean that you're not allowed to hit the rock bottom first. It's okay to fall. It's okay to feel the pain. It's okay to not be okay. It doesn't make you any less of human being. It makes you, you.

The moment I'm writing this, I just need to do one simple thing. That whether I like it or not, I need to make a change. And there's no better person in the world that can do that, except me. 

I simply just not only need to move forward, and also to leave all this b*llshit behind my back.