Sunday, November 21, 2021

Self-esteem Awareness

Setelah sekian lama, aku baru menyadari kalau aku tuh dulu pernah mengalami masa-masa di mana aku tuh sangat... sangat tidak percaya diri. It was like a gazillion years ago but I can think of it at the back of my head clearly.

I was super-defensive back then. And very competitive. Lucunya, aku tuh super-gak pede juga. I was born and raised di lingkungan yang di mana strata dan materi itu penting. Tanpa itu semua, kamu bukan siapa-siapa. Dan itu menciptakan sebuah tekanan tersendiri buatku.

Belum lagi karakter bapakku yang super-strict about everything. Aku masih inget banget sampai sekarang kalau aku udah nggak dibolehin nge-band pas udah kelas 3 dan itu rasanya sediiiih banget. I love music and band was my life. Aku agak lumayan terpukul juga sih.

Move on from music topic. Sikap dan tingkah lakuku yang super-defensive itu masih terbawa sampai kuliah, karena kebetulan aku juga masih satu kos dengan anak-anak satu sekolahku dulu. Jadi aku bener-bener super-nyebelin saat itu. Bener-bener egois.

Sanpai aku merasakan masuk ke dunia kerja, di mana aku merasa mulai dianggap "orang". Maksudnya, aku nggak perlu merasakan tekanan bahwa aku harus kelihatan hebat, pintar, atau dapat nilai lebih bagus dari si A, B, dan lainnya. Aku hanya perlu menjadi diri sendiri. Yang aku sadari saat itu adalah: aku bisa melakukan itu semua tanpa harus usaha banyak. Effortless.

Maksudku begini. Aku baru menyadari dunia itu sangat luas ketika aku melihat banyak sekali manusia yang mempunyai skill atau kemampuan tidak sebanyak yang aku punya, tapi mempunyai rasa percaya diri yang tinggi dan lebih songong daripada aku. LOL.

Hal itu membuatku seperti, "Apaan sih? Biasa aja kali." 

Tapi itu juga yang membuat aku tersadar, "Eh kalau mereka yang punya kemampuan lebih kurang dari aku tapi lebih pede, kenapa aku yang punya kemampuan lebih banyak daripada mereka tidak bikin aku lebih pede juga?" See the concept here?

Aku yang bisa ini-itu, harusnya bisa lebih pede dong daripada mereka? Aku juga belajar untuk mensyukuri nikmat yang udah aku terima dari Allah. Do the best that I can.

Ini yang membuat aku bisa "gas" terus sampai sekarang. Karir aku udah bagus. Gelar ada. Pencapaian-pencapaian yang aku inginkan satu per satu terpenuhi. Kecuali masalah jodoh.

Di sini lah poin lagi yang aku harus garis bawahi untuk diri aku sendiri. Aku masih belum pede. Aku merasa belum pede untuk ngedapetin pasangan hidup yang aku mau. Aku merasa belum deserve dia. Padahal mungkin dia udah nunggu di luar sana untuk diklaim sama aku. Dan mungkin dia juga merasakan hal yang sama. 

Ini PR besar buat aku. Aku harus merasa bisa bener-bener "layak" untuk mendapatkan suami yang seperti aku mau. The fear has  been capturing me in its cage for so long, I forgot how to get out. I feel miserable but I was quite enjoying it. Itu masalahnya. Aku nggak boleh merasa nyaman dengan rasa miserable itu. Aku harus keluar dari situ. Aku harus yakin bahwa aku berhak bahagia. I deserve someone who can make me happy and vice versa. 

Alhamdulillah aku udah menyadari kekuranganku ini. Alhamdulillah aku sudah belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi dan layak mendapatkan pasangan hidup yang aku mau. Mendapatkan pasangan hidup yang layak satu sama lain. We deserve each other and can make each other a better person.

No comments:

Post a Comment