Saya baru saja menonton film Ayat-ayat Cinta 2, yang di mana tanpa menonton film pertamanya terlebih dahulu (Ayat-ayat Cinta) - tapi saya sudah membaca bukunya.
Dengan menulis opini di blog ini, saya hanya menuliskan pendapat saya tanpa memojokkan atau merendahkan pihak mana pun. Saya sadar saya hanya seorang penonton dan punya pandangan yang (mungkin) berbeda dengan penonton lainnya.
PERINGATAN: Jika tidak ingin spoiler, mohon jangan membaca opini saya.
Adegan demi adegan ditawarkan dengan sangat cepat di awal. Tokoh-tokoh diperkenalkan satu per satu layaknya halilintar - muncul dalam hitungan detik. Dikarenakan banyaknya tokoh wanita pendukung di sini, saya maklum jika tahap perkenalan ini begitu kilat.
Keira, Brenda, Hulya, dan Sabina - deretan tokoh wanita di film ini.
Hulusi, Misbah - deretan tokoh laki-laki pendukung/pendamping Fahri.
Ada beberapa bagian yang membuat saya bertanya-tanya, seperti apa latar belakang kemunculan Misbah di rumah Fahri dengan tiba-tiba? Siapakah dia? Seperti apa kebencian Nenek Katerina terhadap umat islam? Tidak kah Keira dan ibunya curiga dengan kemunculan 'guardian angel' yang mampu memberikan kursus dengan guru biola terbaik untuk Keira?
Yang membuat saya agak terganggu adalah bagaimana penyampaian dwi-bahasa yang (kesannya) tercampur aduk selama film berlangsung. Ada kalanya mereka menggunakan bahasa indonesia, ada kalanya mereka menggunakan bahasa inggris. Di saat di mana tidak semua orang di situ adalah orang Indonesia, hal ini cukup mengganggu saya.
Belum lagi adegan di saat Fahri harus melakukan debat ilmiah dengan dosen-dosen liberal di kampusnya. Saya tidak melihat sedikit pun di mana letak 'ilmiah'-nya. Menurut saya debat itu terkesan sangat umum dan tidak rumit. Yang saya juga tidak mengerti, kenapa bisa ada Nenek Katerina berada di tempat itu, apakah dia memang sengaja diundang? Toh, dia bukan dosen atau mempunyai hubungan kerabat dengan dosen-dosen di situ.
Saya juga tidak melihat alasan/latar belakang kenapa Sabina bisa tiba-tiba muncul begitu saja di sekitar kehidupan Fahri. Apakah memang sedari awal Sabina tahu Fahri sudah tinggal di Edinburgh?
Banyak sekali adegan-adegan terjahit dengan cepat tanpa memunculkan sisi emosional. Hal ini sangat disayangkan karena mengingat judul film yang sebelumnya laris dan menjanjikan.
Lucunya, di beberapa bagian, ada adegan-adegan emosi yang terlampau mencuat, yang mampu membuat saya menitikkan air mata. Kejomplangan pasang-surut emosi dari film ini membuat saya geleng-geleng kepala.
Yang terakhir, saya benar-benar tidak paham dengan tokoh antagonis yang sedari awal tidak dimunculkan, namun mampu membuat plot twist yang tertekuk tajam. Kalau logikanya, kenapa hal ini tidak dimunculkan saja sedikit demi sedikit dari awal? Kenapa juga Sabina harus menyebutkan namanya? Kalau memang mencurigakan, seharusnya dia pergi saja dari situ, bukan?
Saya juga tidak paham sistem yang terakhir sebagai ending dari film ini. Menurut saya hal ini sebetulnya sudah tidak perlu, esensinya juga sudah hilang. Namun lagi-lagi saya sebagai penonton harus merasa puas dengan cerita yang disajikan.
Tokoh Fahri sendiri terasa terlalu sempurna, sehingga kekurangan yang dia berikan nyaris tidak terlihat, dan hal ini juga tidak membuat batin saya puas.
Saya hanya seorang penulis pemula, namun saya entah kenapa saya bisa menyadari bagian-bagian penting yang selama ini diajarkan saya, hilang selama film berjalan. Mungkin karena mengejar tayangnya yang tidak boleh lebih dari 120 menit? Saya juga kurang paham.
Singkat kata, film ini layak ditonton dan bisa menjadi hiburan penutup tahun yang cukup baik.

