Saturday, November 27, 2021

Senyumnya :)

Hari ini aku bersyukur karena masih diberi kesehatan yang baik, keluargaku juga sehat, kucingku sehat. Alhamdulillah...

Ada sih satu hal yang bikin aku agak lega. I've been paying attention to this one guy. Yup. The same guy that I've talked about in my last post. 

Waktu di postingan sosmed dia yang terakhir, he wasn't exactly what I call 'smiling'. Padahal lesung pipinya itu loh, yang bikin aku jatuh cinta. xD Tapi untungnya di salah satu status postingan dia akhir-akhir ini, aku ada ngeliat foto dia sedang tersenyum. Aku seneeeng banget ngeliatnya. Alhamdulillah... akhirnya dia tersenyum juga. 

Walaupun saat ini cuma bisa meratiin dari jauh, seenggaknya aku tahu dia hepi. Kalau dia udah bisa senyum seperti itu, udah cukup buatku untuk ikut seneng juga. Tapi mudah-mudahan aku sama dia bisa segera ketemu ya. :)

Keep smiling ya... :)

Sunday, November 21, 2021

Self-esteem Awareness

Setelah sekian lama, aku baru menyadari kalau aku tuh dulu pernah mengalami masa-masa di mana aku tuh sangat... sangat tidak percaya diri. It was like a gazillion years ago but I can think of it at the back of my head clearly.

I was super-defensive back then. And very competitive. Lucunya, aku tuh super-gak pede juga. I was born and raised di lingkungan yang di mana strata dan materi itu penting. Tanpa itu semua, kamu bukan siapa-siapa. Dan itu menciptakan sebuah tekanan tersendiri buatku.

Belum lagi karakter bapakku yang super-strict about everything. Aku masih inget banget sampai sekarang kalau aku udah nggak dibolehin nge-band pas udah kelas 3 dan itu rasanya sediiiih banget. I love music and band was my life. Aku agak lumayan terpukul juga sih.

Move on from music topic. Sikap dan tingkah lakuku yang super-defensive itu masih terbawa sampai kuliah, karena kebetulan aku juga masih satu kos dengan anak-anak satu sekolahku dulu. Jadi aku bener-bener super-nyebelin saat itu. Bener-bener egois.

Sanpai aku merasakan masuk ke dunia kerja, di mana aku merasa mulai dianggap "orang". Maksudnya, aku nggak perlu merasakan tekanan bahwa aku harus kelihatan hebat, pintar, atau dapat nilai lebih bagus dari si A, B, dan lainnya. Aku hanya perlu menjadi diri sendiri. Yang aku sadari saat itu adalah: aku bisa melakukan itu semua tanpa harus usaha banyak. Effortless.

Maksudku begini. Aku baru menyadari dunia itu sangat luas ketika aku melihat banyak sekali manusia yang mempunyai skill atau kemampuan tidak sebanyak yang aku punya, tapi mempunyai rasa percaya diri yang tinggi dan lebih songong daripada aku. LOL.

Hal itu membuatku seperti, "Apaan sih? Biasa aja kali." 

Tapi itu juga yang membuat aku tersadar, "Eh kalau mereka yang punya kemampuan lebih kurang dari aku tapi lebih pede, kenapa aku yang punya kemampuan lebih banyak daripada mereka tidak bikin aku lebih pede juga?" See the concept here?

Aku yang bisa ini-itu, harusnya bisa lebih pede dong daripada mereka? Aku juga belajar untuk mensyukuri nikmat yang udah aku terima dari Allah. Do the best that I can.

Ini yang membuat aku bisa "gas" terus sampai sekarang. Karir aku udah bagus. Gelar ada. Pencapaian-pencapaian yang aku inginkan satu per satu terpenuhi. Kecuali masalah jodoh.

Di sini lah poin lagi yang aku harus garis bawahi untuk diri aku sendiri. Aku masih belum pede. Aku merasa belum pede untuk ngedapetin pasangan hidup yang aku mau. Aku merasa belum deserve dia. Padahal mungkin dia udah nunggu di luar sana untuk diklaim sama aku. Dan mungkin dia juga merasakan hal yang sama. 

Ini PR besar buat aku. Aku harus merasa bisa bener-bener "layak" untuk mendapatkan suami yang seperti aku mau. The fear has  been capturing me in its cage for so long, I forgot how to get out. I feel miserable but I was quite enjoying it. Itu masalahnya. Aku nggak boleh merasa nyaman dengan rasa miserable itu. Aku harus keluar dari situ. Aku harus yakin bahwa aku berhak bahagia. I deserve someone who can make me happy and vice versa. 

Alhamdulillah aku udah menyadari kekuranganku ini. Alhamdulillah aku sudah belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi dan layak mendapatkan pasangan hidup yang aku mau. Mendapatkan pasangan hidup yang layak satu sama lain. We deserve each other and can make each other a better person.

Saturday, October 23, 2021

Another Phase

The design of life has been unfriendly to me lately.

Today I remember someone who could've just said the most terrible thing to my face, "You are a nobody."

It kept echoing inside my head. Over and over again. I felt useless. Hopeless. I was crying and weeping. I got no one to hold on to.

You know when there is one reason that you should stand for, which is to be someone who can give out to others, instead, you've been acknowledged as a burden to someone else's life. You didn't even get admitted to be a part of their lives. Ever. Can you imagine the heartache that I've had recently?

I even failed to attract one guy that I think the most gorgeous guy I've ever seen in life. Well, yeah, I tried to talk to him. I messaged him and I kept doing the wrong things. I didn't know what to do anymore. I feel I'm like being cursed. Am I being cursed? Why am I so unfortunate in this relationship thing? Why? 

This guy... he's attractive, he's smart, funny, he's good looking. He has good taste in music as well (which is a plus for me!). And I know for sure that we can be a good partner. He also has boundaries over principles that he knows not to cross over with. And I think that's sexy. Well, the thing is, I just kept doing this thing over and over again. I cannot even sure if he's attracted to me, or not. I felt stupid. 

I didn't mean to complaint, or brag something that I know I shouldn't brag. No. I just... simply don't know what to do.

People often mistaken my being picky over a guy who will later being my partner-in-crime for life. Maybe I should be picky. Maybe? Maybe not? Beats me.

I even tried to call some of my friends and they think that I got arrogant enough for not saying 'yes' to their invitation to go outside. It's not that I don't want to. I don't have any vaccination card that others have to get the access to go everywhere. I'm not sure that I can go anywhere, even I want to.

Maybe I'm also a bad friend? Great, now the more I'm thinking of it, the more panic that I get in my head. Am I a screwed up?

D*mmit.


Sunday, October 17, 2021

Lost

I'm crumbled.

I just felt like writing this thing is totally unachievable. In order to make my feelings better, maybe? Or maybe not.

Writing this in Sunday afternoon makes me like... wanna throw up.

I don't even know where to begin.

I feel like a failure. What's there to see now? In these past few months, I learnt that I need to let some things go. Some things that are not meant to be. Even it's hard for me to admit it, it's just there.

I fell for a wrong guy. Two, actually. The one that came from the past, and the other one was just simply... a mistake.

I screwed up big time I didn't how to fix it. I almost thought myself into a suicidal act. 

I got depressed. I made mistakes. Terrible mistakes. And I'm scared. It was totally out of control. I even went to psychologist, just to see if I could find my solution there. Yet, I still felt empty. 

I didn't want to do to all the favorite activities that I used to love -- music, reading some books, watching Netflix. I simply got numb. This is the second time the depression attacked me.

At first, when I knew that the second guy only took me for granted, then I ran back to the first guy, which I thought that he could be supporting me, and cheered me up. Instead, he left me again. Alone. 

I felt like hitting the rock bottom. Twice. It's hard for me to climb up, not in my condition. 

For days, I've been trying to figure out things. I tried to restore all of the balance that I've lost. I tried to regain my confidence, my dignity, my pride, and else. 

I feel like a loser. A total loser. I kept telling myself if I could ever get through this. Or if I should just end up my life instead? Don't you think it would be much easier, so I won't be a burden for everyone around me, anymore?

Throughout my years of life, I never thought that I would go through this. I feel like there's a bidding war inside me, will I end up my life or should I just move on and pretend nothing has happened?

Actually, I cannot pretend that it's not happened. I have to admit that it's hard for me. It's hurting me as well. I have to admit that I'M NOT OKAY.

I simply don't know what to do. And that's okay too. I finally realized that my overthinking (up until now) still gets the best of me. It's okay to not know the answer today. It's okay to just move on.

Maybe for some people, it's only gonna take weeks. For others, maybe months. Or maybe for me, years? I don't know. No one knows. I just need to take a courage to make a first step to move forward. 

Maybe, I just need to fly away the white flag for myself. I have to make peace with me. Maybe I need to learn that there are some things that I cannot control. And I just need to let them go.

I know. It's hard for me too. But I gotta do what I gotta do. I believe that everything happens for a reason. Even you don't know what that is now, you'll know it in the future. God has arranged it all for all of us. He knows what's best for us. Although maybe it's hard to be accepted by our logical minds now, but trust me, it's for the best.

Being heartbroken, or ghosted, or rejected. All those pains, it'll go away. Maybe not now, but it will be getting better in time. The pains -- they are gonna make you stronger that you never thought about it in the first place. 

I know for some people, the ego said that "I'm way much better, I don't wanna cry for that man!" or "I'm a strong woman, I can do this!" And believe me, you will! But that doesn't mean that you're not allowed to hit the rock bottom first. It's okay to fall. It's okay to feel the pain. It's okay to not be okay. It doesn't make you any less of human being. It makes you, you.

The moment I'm writing this, I just need to do one simple thing. That whether I like it or not, I need to make a change. And there's no better person in the world that can do that, except me. 

I simply just not only need to move forward, and also to leave all this b*llshit behind my back.


Tuesday, May 26, 2020

Titans DCU Review


Titans (TV Series 2018– ) - IMDb

Awalnya, aku sangat skeptis untuk menonton yang satu ini. Karena apa? Simple. Because it's DC. Not Marvel. Hey, don't get me wrong, Batman's cool. It's just... there's too many reboots until I don't know what exactly happened between those characters and the stories. They're just too confusing.

Sampai ketika aku memutuskan untuk menonton DC Titans di Netflix, hanya untuk memuaskan rasa penasaran. Sudah terbayang plot cerita yang makin lama makin nggak karuan, karena aku melihat 'rasa' dari tayangan TV cerita DC seperti Supergirl dan Arrow, yang ditayangkan CW, yang menurutku makin ke belakang makin berantakan. Simply said - I don't enjoy it anymore and I don't know why.

Aku akan mencoba me-review DC Titans menurut pengamatanku sejauh ini. Tapi ini spoiler ya! So you may continue to read this, but on your own risk!

1. Untuk Season 1, film ini terlalu gothic dan horror. Mungkin karena berpusat antara Dick dan Rachel sebagai mentor dan anak didiknya yang super creepy (tapi cool!). Seiring berjalannya waktu, Rachel makin menunjukkan kedewasaannya, which is a good thing considering she's still a teenager.

2. Untuk Season 1, ada beberapa plothole yang agak aneh. Terutama di episode 'Asylum'. Aku nggak terlalu ngerti dunia kedokteran dan obat-obatan, tapi apakah bisa memberikan suntikan di tempat selain nadimu? Dan apakah jika dosis drug/obat yang diberikan 2x lipat dari semula (ditambah 1x dosis awal, yang kalau dihitung total = 3x dosis??), bisa membuatmu dengan gampang berkelahi dengan begitu banyak orang? It's just... doesn't make any sense. Kalian akan mengerti kalau menonton sendiri episodenya.

3. Untuk Season 1, apakah seorang ibu tega-teganya bisa membohongi anak yang sudah belasan tahun tidak ditemuinya, memanfaatkannya hanya untuk memanggil ayahnya yang 'setan'? 

4. The ending for Season 1? Hard cliffhanger. Not a big fan. Why? See the next point.

5. Because it's simply ended in Season 2 Episode 1. Just like that! It's that simple! Jadi begitu saja cara mengalahkan si setan? Kok kayaknya gampang banget ya? Seolah-olah cliffhanger yang diberikan di ending Season 1 hanya supaya mendorong (sedikit memaksa, correct?) si rumah produksi untuk memproduksi Season 2. *sigh*

6. Dandanan Kory selama Season 1 is totally annoying. Dengan rambut merah keriwil dan baju ketat berwarna ungu. Dan dia membawa Rachel ke mana-mana, berombongan dengan Garfield the Beast Boy yang berambut hijau. Aren't those too much for appearances? Maksudku, kalau memang tahu sedang dikejar-kejar seseorang (atau sesuatu?), bukankah lebih baik kalau sedikit menyamar? Ganti baju kek, pakai topi, pakai wig, dan sebagainya. Kalau menurutku, mereka terlalu mencolok untuk tidak menarik perhatian orang-orang di sekitarnya untuk menimbulkan pertanyaan. Sekarang pertanyaanku, seberapa sering kalian melihat cewek berambut keriwil berwarna merah dengan baju ungu, serta cewek mungil berambut biru serta cowok berambut hijau berjalan-jalan dengan santai di depan mata? Bukankah logikanya kalian akan bertanya-tanya, "Itu siapa ya?"

7. Too many flashbacks. Untuk Season 1 dan 2, it's almost the same. Saking greget pengen tahu kelanjutan dari episode berikutnya, malah disetir ke tempat lain dulu. Kalau lagi jalan-jalan itu disuruh keliling ke rute lain dulu. Malah bikin sebel. Memang pada akhirnya sih akan ketemu juga di main route. Tapi tetep aja... *pengennangis*

8. Untuk Season 2, horor-nya sudah nggak ada. Malah kebanyakan dramanya, tapi belum sebanyak CW (yang terkadang terlalu annoying). Aku masih bisa kasih toleransi deh untuk lanjut nonton.

9. Untuk karakter Dick Grayson sendiri, terkadang suka sebel ya, dia terlalu suka main sendiri dibanding menjadi team player yang baik. Aku nggak tahu apakah itu pengaruh dari didikan Bruce Wayne/Batman yang sebelum bertemu Robin, memang lebih suka bermain solo dalam menumpas kejahatan. Kadang suka sok jadi martyr juga. Aneh deh karakternya. Untung yang meranin ganteng ya. Jadi nggak sebel-sebel amat gitu (haha). Tapi di luar itu, ada bagusnya juga sih membuat karakter seperti ini. Dia terlihat manusiawi. Punya kekuatan dan kelemahan yang nyaris sama. All and all, Dick Grayson is a quite lovable character despite his ego.

10. Kebencian Dick Grayson terhadap Bruce Wayne. Di Season 1, kelihatan banget Dick Grayson benci banget sama Bruce Wayne. Katanya dia sudah benci pada Bruce sejak umurnya 12 tahun. Dan ketika kita menonton episode 1 Season 2? Tadaa... tiba-tiba dia mau mendatangi Wayne Manor dan minta Titans Tower di San Fransisco, dan tiba-tiba aja dia mengerti alasan Bruce Wayne selama ini menjadikan dia sebagai Robin bukan sebagai senjata Batman, tapi untuk mengalihkan kesedihan Dick Grayson ke hal-hal yang positif (dengan menjadikan dia sebagai petarung??). Aneh aja sih. Kok gampang banget ya maafinnya? Mana di Season 1 dia sama sekali nggak ketemu sama Bruce. Jadi kalau tiba-tiba maafin itu kesannya Dick lagi didatangi sama Malaikat Pemaaf. Tapi ya sudahlah ya. Lanjut.

11. Hilangnya 'arti' dari pekerjaan Dick Grayson. Di kisah awal Season 1, Dick diceritakan adalah seorang detektif. Bahkan rekan kerjanya ada yang mati terbunuh. Tapi makin ke belakang kok 'rasa' dari detektifnya mendadak hilang. Di Season 2 malah dia lebih terlihat seperti mentor Titans dibanding jadi detektif. Jadi sebetulnya Dick masih kerja sebagai detektif nggak sih?

12. Jason Todd. Sebetulnya karakter ini paling menyenangkan loh. Dia lincah, kuat, berani, dan lucu. Tapi somehow dia kelihatan kurang cool dibanding Dick Grayson (mungkin karena Dick lebih senior). Di antara semua karakter, Jason justru yang superkocak dan bisa mewarnai kelamnya plot yang disuguhkan Titans. Sayang di Season 2 dia malah seperti 'dipaksa kepentok' sama trauma dia yang nyaris jatuh dari gedung 15 lantai. Suram lagi deh.

13. Karakter Titans yang baru malah makin mengecil. Dan karakter Titans yang asli juga nggak banyak menolong cerita. Jadi malah kayak kebanyakan karakter, jadi kesulitan mau memusatkan cerita ke siapa. Kalau menurutku, mending fokus ke Titans yang asli dulu, baru masuk ke Titans yang baru. Ini berasa tumpang tindih nggak karuan.

14. Hubungan antara Dick dan Dawn dan Hank. Di Season 1, ada flashback kisah bagaimana awalnya Dawn dan Hank bertemu. Tapi kemudian di Season 2, setiap ada flashback ke lima tahun belakang, Dawn diceritakan masih pacaran sama Dick. Sementara Dawn dan Hank membagi luka yang sama ketika kehilangan orang-orang yang mereka cintai (yang menurutku akan membuat ikatan kedua orang ini lebih kuat). Jadi sebetulnya, urutannya bagaimana ya? Apakah Dick pacaran dulu dengan Dawn terus ketemu Hank? Atau Dawn ketemu Hank (sementara mereka sudah tidur bareng) terus baru pacaran dengan Dick? 

Sekian review dari saya. Seperti biasa, saya hanya memberikan pendapat saya, tidak ada maksud apapun. Tapi so far, Titans memberikan hiburan yang cukup menarik dan enjoyable. Worth to watch.

Let me know your thoughts, guys!

Monday, December 24, 2018

The Voice Romania 2018 - Bogdan Iodan

Asli ini keren nggak sih?

Walaupun nggak ngerti bahasa Romania, tapi aku akuin aku seperti melihat konser Michael Jackson lagi.

And I heard that he won the competition this year. Congrats Bogdan!


Saturday, February 17, 2018

Review: Black Panther

Related image 

Awalnya nih, aku agak skeptis untuk menonton film Black Panther, karena aku (jujur) aku agak sebal dengan T'Challa pas nonton Captain America: Civil War. Didukung dengan fakta bahwa dia memilih berada di sisi Iron Man daripada Captain America.

Tapi setelah aku nonton dengan khidmat, aku mendadak 'jatuh cinta' dengan film ini. Keren abis! Sebetulnya inti ceritanya sederhana banget. Tapi didukung dengan akting para aktor/aktris-nya yang maksimal, visual effect yang oke berat, plot twist-nya yang bikin melongo. Bahkan lagu-lagu soundtrack pendukungnya asyik banget. Nggak ada yang nggak asyik. 

Entah kenapa Chadwick Boseman mendadak jadi ganteng aja di sini. Haha! :D (Sori Cap, aku tetap cinta padamu kok!)

Yang lebih kerennya lagi, si tokoh antagonis - Killmonger (diperankan oleh Michael B. Jordan) bikin film ini terasa banget gregetnya, karena jahatnya itu dominan banget! Jadi kita kayak perang batin mau ngelawan dan mihak T'Challa, tapi karena Killmonger terlalu kharismatik seperti Loki, jadi kita antara gemes-gemes gimana gitu. Pokoknya keren deh!

Nilai plus yang aku adore banget dari film ini, hubungan T'Challa dengan keluarga dan teman dekatnya, terutama hubungan dia dengan Shuri (adik perempuannya). Lucu dan sibling goals banget! 

Asli, aku nggak bisa complain apa-apa, karena semuanya keren.

Yang aku sesalkan cuma satu, kenapa aku nggak menonton dengan versi iMax! Pasti jauh lebih keren! 

Your Highness T'Challa, you are now have a new fan. ;)