Tuesday, May 26, 2020

Titans DCU Review


Titans (TV Series 2018– ) - IMDb

Awalnya, aku sangat skeptis untuk menonton yang satu ini. Karena apa? Simple. Because it's DC. Not Marvel. Hey, don't get me wrong, Batman's cool. It's just... there's too many reboots until I don't know what exactly happened between those characters and the stories. They're just too confusing.

Sampai ketika aku memutuskan untuk menonton DC Titans di Netflix, hanya untuk memuaskan rasa penasaran. Sudah terbayang plot cerita yang makin lama makin nggak karuan, karena aku melihat 'rasa' dari tayangan TV cerita DC seperti Supergirl dan Arrow, yang ditayangkan CW, yang menurutku makin ke belakang makin berantakan. Simply said - I don't enjoy it anymore and I don't know why.

Aku akan mencoba me-review DC Titans menurut pengamatanku sejauh ini. Tapi ini spoiler ya! So you may continue to read this, but on your own risk!

1. Untuk Season 1, film ini terlalu gothic dan horror. Mungkin karena berpusat antara Dick dan Rachel sebagai mentor dan anak didiknya yang super creepy (tapi cool!). Seiring berjalannya waktu, Rachel makin menunjukkan kedewasaannya, which is a good thing considering she's still a teenager.

2. Untuk Season 1, ada beberapa plothole yang agak aneh. Terutama di episode 'Asylum'. Aku nggak terlalu ngerti dunia kedokteran dan obat-obatan, tapi apakah bisa memberikan suntikan di tempat selain nadimu? Dan apakah jika dosis drug/obat yang diberikan 2x lipat dari semula (ditambah 1x dosis awal, yang kalau dihitung total = 3x dosis??), bisa membuatmu dengan gampang berkelahi dengan begitu banyak orang? It's just... doesn't make any sense. Kalian akan mengerti kalau menonton sendiri episodenya.

3. Untuk Season 1, apakah seorang ibu tega-teganya bisa membohongi anak yang sudah belasan tahun tidak ditemuinya, memanfaatkannya hanya untuk memanggil ayahnya yang 'setan'? 

4. The ending for Season 1? Hard cliffhanger. Not a big fan. Why? See the next point.

5. Because it's simply ended in Season 2 Episode 1. Just like that! It's that simple! Jadi begitu saja cara mengalahkan si setan? Kok kayaknya gampang banget ya? Seolah-olah cliffhanger yang diberikan di ending Season 1 hanya supaya mendorong (sedikit memaksa, correct?) si rumah produksi untuk memproduksi Season 2. *sigh*

6. Dandanan Kory selama Season 1 is totally annoying. Dengan rambut merah keriwil dan baju ketat berwarna ungu. Dan dia membawa Rachel ke mana-mana, berombongan dengan Garfield the Beast Boy yang berambut hijau. Aren't those too much for appearances? Maksudku, kalau memang tahu sedang dikejar-kejar seseorang (atau sesuatu?), bukankah lebih baik kalau sedikit menyamar? Ganti baju kek, pakai topi, pakai wig, dan sebagainya. Kalau menurutku, mereka terlalu mencolok untuk tidak menarik perhatian orang-orang di sekitarnya untuk menimbulkan pertanyaan. Sekarang pertanyaanku, seberapa sering kalian melihat cewek berambut keriwil berwarna merah dengan baju ungu, serta cewek mungil berambut biru serta cowok berambut hijau berjalan-jalan dengan santai di depan mata? Bukankah logikanya kalian akan bertanya-tanya, "Itu siapa ya?"

7. Too many flashbacks. Untuk Season 1 dan 2, it's almost the same. Saking greget pengen tahu kelanjutan dari episode berikutnya, malah disetir ke tempat lain dulu. Kalau lagi jalan-jalan itu disuruh keliling ke rute lain dulu. Malah bikin sebel. Memang pada akhirnya sih akan ketemu juga di main route. Tapi tetep aja... *pengennangis*

8. Untuk Season 2, horor-nya sudah nggak ada. Malah kebanyakan dramanya, tapi belum sebanyak CW (yang terkadang terlalu annoying). Aku masih bisa kasih toleransi deh untuk lanjut nonton.

9. Untuk karakter Dick Grayson sendiri, terkadang suka sebel ya, dia terlalu suka main sendiri dibanding menjadi team player yang baik. Aku nggak tahu apakah itu pengaruh dari didikan Bruce Wayne/Batman yang sebelum bertemu Robin, memang lebih suka bermain solo dalam menumpas kejahatan. Kadang suka sok jadi martyr juga. Aneh deh karakternya. Untung yang meranin ganteng ya. Jadi nggak sebel-sebel amat gitu (haha). Tapi di luar itu, ada bagusnya juga sih membuat karakter seperti ini. Dia terlihat manusiawi. Punya kekuatan dan kelemahan yang nyaris sama. All and all, Dick Grayson is a quite lovable character despite his ego.

10. Kebencian Dick Grayson terhadap Bruce Wayne. Di Season 1, kelihatan banget Dick Grayson benci banget sama Bruce Wayne. Katanya dia sudah benci pada Bruce sejak umurnya 12 tahun. Dan ketika kita menonton episode 1 Season 2? Tadaa... tiba-tiba dia mau mendatangi Wayne Manor dan minta Titans Tower di San Fransisco, dan tiba-tiba aja dia mengerti alasan Bruce Wayne selama ini menjadikan dia sebagai Robin bukan sebagai senjata Batman, tapi untuk mengalihkan kesedihan Dick Grayson ke hal-hal yang positif (dengan menjadikan dia sebagai petarung??). Aneh aja sih. Kok gampang banget ya maafinnya? Mana di Season 1 dia sama sekali nggak ketemu sama Bruce. Jadi kalau tiba-tiba maafin itu kesannya Dick lagi didatangi sama Malaikat Pemaaf. Tapi ya sudahlah ya. Lanjut.

11. Hilangnya 'arti' dari pekerjaan Dick Grayson. Di kisah awal Season 1, Dick diceritakan adalah seorang detektif. Bahkan rekan kerjanya ada yang mati terbunuh. Tapi makin ke belakang kok 'rasa' dari detektifnya mendadak hilang. Di Season 2 malah dia lebih terlihat seperti mentor Titans dibanding jadi detektif. Jadi sebetulnya Dick masih kerja sebagai detektif nggak sih?

12. Jason Todd. Sebetulnya karakter ini paling menyenangkan loh. Dia lincah, kuat, berani, dan lucu. Tapi somehow dia kelihatan kurang cool dibanding Dick Grayson (mungkin karena Dick lebih senior). Di antara semua karakter, Jason justru yang superkocak dan bisa mewarnai kelamnya plot yang disuguhkan Titans. Sayang di Season 2 dia malah seperti 'dipaksa kepentok' sama trauma dia yang nyaris jatuh dari gedung 15 lantai. Suram lagi deh.

13. Karakter Titans yang baru malah makin mengecil. Dan karakter Titans yang asli juga nggak banyak menolong cerita. Jadi malah kayak kebanyakan karakter, jadi kesulitan mau memusatkan cerita ke siapa. Kalau menurutku, mending fokus ke Titans yang asli dulu, baru masuk ke Titans yang baru. Ini berasa tumpang tindih nggak karuan.

14. Hubungan antara Dick dan Dawn dan Hank. Di Season 1, ada flashback kisah bagaimana awalnya Dawn dan Hank bertemu. Tapi kemudian di Season 2, setiap ada flashback ke lima tahun belakang, Dawn diceritakan masih pacaran sama Dick. Sementara Dawn dan Hank membagi luka yang sama ketika kehilangan orang-orang yang mereka cintai (yang menurutku akan membuat ikatan kedua orang ini lebih kuat). Jadi sebetulnya, urutannya bagaimana ya? Apakah Dick pacaran dulu dengan Dawn terus ketemu Hank? Atau Dawn ketemu Hank (sementara mereka sudah tidur bareng) terus baru pacaran dengan Dick? 

Sekian review dari saya. Seperti biasa, saya hanya memberikan pendapat saya, tidak ada maksud apapun. Tapi so far, Titans memberikan hiburan yang cukup menarik dan enjoyable. Worth to watch.

Let me know your thoughts, guys!

No comments:

Post a Comment