Sunday, November 21, 2021
Self-esteem Awareness
Saturday, October 23, 2021
Another Phase
The design of life has been unfriendly to me lately.
Today I remember someone who could've just said the most terrible thing to my face, "You are a nobody."
It kept echoing inside my head. Over and over again. I felt useless. Hopeless. I was crying and weeping. I got no one to hold on to.
You know when there is one reason that you should stand for, which is to be someone who can give out to others, instead, you've been acknowledged as a burden to someone else's life. You didn't even get admitted to be a part of their lives. Ever. Can you imagine the heartache that I've had recently?
I even failed to attract one guy that I think the most gorgeous guy I've ever seen in life. Well, yeah, I tried to talk to him. I messaged him and I kept doing the wrong things. I didn't know what to do anymore. I feel I'm like being cursed. Am I being cursed? Why am I so unfortunate in this relationship thing? Why?
This guy... he's attractive, he's smart, funny, he's good looking. He has good taste in music as well (which is a plus for me!). And I know for sure that we can be a good partner. He also has boundaries over principles that he knows not to cross over with. And I think that's sexy. Well, the thing is, I just kept doing this thing over and over again. I cannot even sure if he's attracted to me, or not. I felt stupid.
I didn't mean to complaint, or brag something that I know I shouldn't brag. No. I just... simply don't know what to do.
People often mistaken my being picky over a guy who will later being my partner-in-crime for life. Maybe I should be picky. Maybe? Maybe not? Beats me.
I even tried to call some of my friends and they think that I got arrogant enough for not saying 'yes' to their invitation to go outside. It's not that I don't want to. I don't have any vaccination card that others have to get the access to go everywhere. I'm not sure that I can go anywhere, even I want to.
Maybe I'm also a bad friend? Great, now the more I'm thinking of it, the more panic that I get in my head. Am I a screwed up?
D*mmit.
Sunday, October 17, 2021
Lost
Tuesday, May 26, 2020
Titans DCU Review

Awalnya, aku sangat skeptis untuk menonton yang satu ini. Karena apa? Simple. Because it's DC. Not Marvel. Hey, don't get me wrong, Batman's cool. It's just... there's too many reboots until I don't know what exactly happened between those characters and the stories. They're just too confusing.
Sampai ketika aku memutuskan untuk menonton DC Titans di Netflix, hanya untuk memuaskan rasa penasaran. Sudah terbayang plot cerita yang makin lama makin nggak karuan, karena aku melihat 'rasa' dari tayangan TV cerita DC seperti Supergirl dan Arrow, yang ditayangkan CW, yang menurutku makin ke belakang makin berantakan. Simply said - I don't enjoy it anymore and I don't know why.
Aku akan mencoba me-review DC Titans menurut pengamatanku sejauh ini. Tapi ini spoiler ya! So you may continue to read this, but on your own risk!
1. Untuk Season 1, film ini terlalu gothic dan horror. Mungkin karena berpusat antara Dick dan Rachel sebagai mentor dan anak didiknya yang super creepy (tapi cool!). Seiring berjalannya waktu, Rachel makin menunjukkan kedewasaannya, which is a good thing considering she's still a teenager.
2. Untuk Season 1, ada beberapa plothole yang agak aneh. Terutama di episode 'Asylum'. Aku nggak terlalu ngerti dunia kedokteran dan obat-obatan, tapi apakah bisa memberikan suntikan di tempat selain nadimu? Dan apakah jika dosis drug/obat yang diberikan 2x lipat dari semula (ditambah 1x dosis awal, yang kalau dihitung total = 3x dosis??), bisa membuatmu dengan gampang berkelahi dengan begitu banyak orang? It's just... doesn't make any sense. Kalian akan mengerti kalau menonton sendiri episodenya.
3. Untuk Season 1, apakah seorang ibu tega-teganya bisa membohongi anak yang sudah belasan tahun tidak ditemuinya, memanfaatkannya hanya untuk memanggil ayahnya yang 'setan'?
4. The ending for Season 1? Hard cliffhanger. Not a big fan. Why? See the next point.
5. Because it's simply ended in Season 2 Episode 1. Just like that! It's that simple! Jadi begitu saja cara mengalahkan si setan? Kok kayaknya gampang banget ya? Seolah-olah cliffhanger yang diberikan di ending Season 1 hanya supaya mendorong (sedikit memaksa, correct?) si rumah produksi untuk memproduksi Season 2. *sigh*
6. Dandanan Kory selama Season 1 is totally annoying. Dengan rambut merah keriwil dan baju ketat berwarna ungu. Dan dia membawa Rachel ke mana-mana, berombongan dengan Garfield the Beast Boy yang berambut hijau. Aren't those too much for appearances? Maksudku, kalau memang tahu sedang dikejar-kejar seseorang (atau sesuatu?), bukankah lebih baik kalau sedikit menyamar? Ganti baju kek, pakai topi, pakai wig, dan sebagainya. Kalau menurutku, mereka terlalu mencolok untuk tidak menarik perhatian orang-orang di sekitarnya untuk menimbulkan pertanyaan. Sekarang pertanyaanku, seberapa sering kalian melihat cewek berambut keriwil berwarna merah dengan baju ungu, serta cewek mungil berambut biru serta cowok berambut hijau berjalan-jalan dengan santai di depan mata? Bukankah logikanya kalian akan bertanya-tanya, "Itu siapa ya?"
7. Too many flashbacks. Untuk Season 1 dan 2, it's almost the same. Saking greget pengen tahu kelanjutan dari episode berikutnya, malah disetir ke tempat lain dulu. Kalau lagi jalan-jalan itu disuruh keliling ke rute lain dulu. Malah bikin sebel. Memang pada akhirnya sih akan ketemu juga di main route. Tapi tetep aja... *pengennangis*
8. Untuk Season 2, horor-nya sudah nggak ada. Malah kebanyakan dramanya, tapi belum sebanyak CW (yang terkadang terlalu annoying). Aku masih bisa kasih toleransi deh untuk lanjut nonton.
9. Untuk karakter Dick Grayson sendiri, terkadang suka sebel ya, dia terlalu suka main sendiri dibanding menjadi team player yang baik. Aku nggak tahu apakah itu pengaruh dari didikan Bruce Wayne/Batman yang sebelum bertemu Robin, memang lebih suka bermain solo dalam menumpas kejahatan. Kadang suka sok jadi martyr juga. Aneh deh karakternya. Untung yang meranin ganteng ya. Jadi nggak sebel-sebel amat gitu (haha). Tapi di luar itu, ada bagusnya juga sih membuat karakter seperti ini. Dia terlihat manusiawi. Punya kekuatan dan kelemahan yang nyaris sama. All and all, Dick Grayson is a quite lovable character despite his ego.
10. Kebencian Dick Grayson terhadap Bruce Wayne. Di Season 1, kelihatan banget Dick Grayson benci banget sama Bruce Wayne. Katanya dia sudah benci pada Bruce sejak umurnya 12 tahun. Dan ketika kita menonton episode 1 Season 2? Tadaa... tiba-tiba dia mau mendatangi Wayne Manor dan minta Titans Tower di San Fransisco, dan tiba-tiba aja dia mengerti alasan Bruce Wayne selama ini menjadikan dia sebagai Robin bukan sebagai senjata Batman, tapi untuk mengalihkan kesedihan Dick Grayson ke hal-hal yang positif (dengan menjadikan dia sebagai petarung??). Aneh aja sih. Kok gampang banget ya maafinnya? Mana di Season 1 dia sama sekali nggak ketemu sama Bruce. Jadi kalau tiba-tiba maafin itu kesannya Dick lagi didatangi sama Malaikat Pemaaf. Tapi ya sudahlah ya. Lanjut.
11. Hilangnya 'arti' dari pekerjaan Dick Grayson. Di kisah awal Season 1, Dick diceritakan adalah seorang detektif. Bahkan rekan kerjanya ada yang mati terbunuh. Tapi makin ke belakang kok 'rasa' dari detektifnya mendadak hilang. Di Season 2 malah dia lebih terlihat seperti mentor Titans dibanding jadi detektif. Jadi sebetulnya Dick masih kerja sebagai detektif nggak sih?
12. Jason Todd. Sebetulnya karakter ini paling menyenangkan loh. Dia lincah, kuat, berani, dan lucu. Tapi somehow dia kelihatan kurang cool dibanding Dick Grayson (mungkin karena Dick lebih senior). Di antara semua karakter, Jason justru yang superkocak dan bisa mewarnai kelamnya plot yang disuguhkan Titans. Sayang di Season 2 dia malah seperti 'dipaksa kepentok' sama trauma dia yang nyaris jatuh dari gedung 15 lantai. Suram lagi deh.
13. Karakter Titans yang baru malah makin mengecil. Dan karakter Titans yang asli juga nggak banyak menolong cerita. Jadi malah kayak kebanyakan karakter, jadi kesulitan mau memusatkan cerita ke siapa. Kalau menurutku, mending fokus ke Titans yang asli dulu, baru masuk ke Titans yang baru. Ini berasa tumpang tindih nggak karuan.
14. Hubungan antara Dick dan Dawn dan Hank. Di Season 1, ada flashback kisah bagaimana awalnya Dawn dan Hank bertemu. Tapi kemudian di Season 2, setiap ada flashback ke lima tahun belakang, Dawn diceritakan masih pacaran sama Dick. Sementara Dawn dan Hank membagi luka yang sama ketika kehilangan orang-orang yang mereka cintai (yang menurutku akan membuat ikatan kedua orang ini lebih kuat). Jadi sebetulnya, urutannya bagaimana ya? Apakah Dick pacaran dulu dengan Dawn terus ketemu Hank? Atau Dawn ketemu Hank (sementara mereka sudah tidur bareng) terus baru pacaran dengan Dick?
Sekian review dari saya. Seperti biasa, saya hanya memberikan pendapat saya, tidak ada maksud apapun. Tapi so far, Titans memberikan hiburan yang cukup menarik dan enjoyable. Worth to watch.
Let me know your thoughts, guys!
Monday, December 24, 2018
The Voice Romania 2018 - Bogdan Iodan
Saturday, February 17, 2018
Review: Black Panther
Sunday, December 24, 2017
Opini: Ayat-ayat Cinta 2
Labels
- books (1)
- friendship (1)
- heart-to-heart (3)
- movie review (10)
- music (2)
- opening (1)
- personality-psychology stuff (3)
- poetry (1)
- special-occasion (1)
- story-of-my-life (4)
- wish list (3)
- writing (3)

