Friday, December 31, 2021

When the love grows...

Beberapa hari ini aku berpikir agak serius... Tentang semua yang udah aku alami selama 2021 berjalan.

Dan, ya, ada beberapa hal yang aku sesali dan itu tidak bisa aku tarik kembali. Aku juga menyesali beberapa kebodohanku yang mungkin akan jadi pembelajaran besar selama hidupku.

That mistakes have been done and there's nothing I can do about it. All I can do is move forward and have the lesson learned for the rest of my life.

Dan... seperti yang udah kalian baca di blog-ku sebelumnya, aku sedang menyukai seseorang. Well, agak lucu sih sebenernya kalau aku bilang aku menyukainya, because I haven't met him in more than 20 years. And yet I feel so close to him. As the days getting by, aku ngerasa kayaknya kok makin lama makin sayang sama dia. 

Mudah-mudahan ini semua bisa bergerak menuju ke arah yang lebih baik. I hope so. Aamiin.


2022, please be kind.

Tuesday, December 14, 2021

Sibling problem??

Jujur aku kecewa dengan adikku.

Dia itu anak laki-laki dan harusnya bisa lebih tanggung jawab dengan sikapnya. Jaga ucapannya. Jaga emosinya. 

I never thought that I would be this disappointed with my own brother, much less having a big argument with him.

Dari mana dia bisa berpikir bahwa hidupku enak? Emangnya dia tahu kalau aku udah mengalami pahit segala macem tahun ini? Emangnya dia tahu gimana perjalanan aku di kantor? Gimana perjuangan aku untuk bertahan selama ini?

I've been trying so hard to keep up with my own problems, struggling hard enough to return my sanity over everything. And yet my own brother judges me and blames me for not being a good person. 

I may not be a saint, but I want to be the best that I can. I want to keep doing good things. 

Semoga saja pintu hati dan pikiran adikku terbuka. Semoga saja dia segera 'matang' dalam berpikir.

Sunday, December 12, 2021

Dilema??

By the time aku posting kemarin, tau-tau dia bikin status di insta story. Awalnya aku pengen jaim, eehh malamnya ya keteken juga. 

Aku baru sadar dia pake kemeja warna biru gelap... which is... bikin dia keliatan super-cute! 

Aaarghh siaal... dilema berkepanjangan deh.

Sekali-sekali bales kek whatsapp aku. :(

Saturday, December 11, 2021

I have no value?

Aku kebingungan.

Aku pikir aku bisa melakukannya. Ternyata aku masih bertanya-tanya sampai sekarang. The guy. Yup, masih cowok yang sama yang aku bahas terakhir, masih tidak meresponku.

I'm wondering if he considers me as a woman with no value? Seburuk itu aku ya?

Mungkin standarnya dia terlalu tinggi sehingga menganggap aku bukan siapa-siapa. Jadi mungkin sebaiknya untuk saat ini aku mundur dulu aja.

Aku sih tidak bermaksud mengejarnya. Aku cuma pengen dia notice kalau ada aku nih di sini. Tapi sepertinya aku memang harus menyerahkan semuanya sama Yang Di Atas.

Kalau memang untuk aku, ya dia akan untuk aku. Gitu aja.

Sunday, November 28, 2021

Kehilangan

 I just lost one of my team members yesterday and it was quite devastating.

Aku nggak pernah terpikir bahwa bawahanku ini bisa mempunyai kisah cinta yang sedih seperti ini. Kinerjanya sudah menurun sejak istrinya meninggal tahun lalu. Setelah aku bicara dengan anaknya kemarin, aku langsung menyadari bahwa he was brokenhearted and overwhelmingly lost in his mind. Dibalut dengan rasa bersalah karena tidak memenuhi tanggung jawabnya sebagai seorang suami, dia sampai rela kehilangan nyawanya untuk bisa menyusul istrinya ke akhirat.

Don't you think it's like a tragic love story? 

I learned a whole new level for love and responsibility as a husband and wife from him. Bahwa ternyata untuk menjadi suami dan istri itu nggak cuma melulu sekedar kelihatan ke mana-mana berdua, trus bikin anak, trus keliatan mewah dengan segala materi yang ada. Tapi memang tanggung jawab yang diemban benar-benar dibawa sampai ke hadapan Yang Maha Kuasa. Dan kurasa bawahanku ini sadar.

Aku rasa dia pengen minta maaf sama almarhum istrinya, menyadari kesalahannya dan tidak bisa memenuhi tanggung jawabnya dengan baik, pengen nangis senangis-nangisnya. Aku bahkan nggak bisa ngomong apa-apa lagi. Bingung.

Saat ini aku cuma berdoa semoga almarhum diberikan ketenangan di sana, diampuni segala dosanya, dan terkabul doanya untuk bisa ketemu dengan istrinya lagi dan meminta maaf sama istrinya. Al-Fatihah.

Saturday, November 27, 2021

Senyumnya :)

Hari ini aku bersyukur karena masih diberi kesehatan yang baik, keluargaku juga sehat, kucingku sehat. Alhamdulillah...

Ada sih satu hal yang bikin aku agak lega. I've been paying attention to this one guy. Yup. The same guy that I've talked about in my last post. 

Waktu di postingan sosmed dia yang terakhir, he wasn't exactly what I call 'smiling'. Padahal lesung pipinya itu loh, yang bikin aku jatuh cinta. xD Tapi untungnya di salah satu status postingan dia akhir-akhir ini, aku ada ngeliat foto dia sedang tersenyum. Aku seneeeng banget ngeliatnya. Alhamdulillah... akhirnya dia tersenyum juga. 

Walaupun saat ini cuma bisa meratiin dari jauh, seenggaknya aku tahu dia hepi. Kalau dia udah bisa senyum seperti itu, udah cukup buatku untuk ikut seneng juga. Tapi mudah-mudahan aku sama dia bisa segera ketemu ya. :)

Keep smiling ya... :)

Sunday, November 21, 2021

Self-esteem Awareness

Setelah sekian lama, aku baru menyadari kalau aku tuh dulu pernah mengalami masa-masa di mana aku tuh sangat... sangat tidak percaya diri. It was like a gazillion years ago but I can think of it at the back of my head clearly.

I was super-defensive back then. And very competitive. Lucunya, aku tuh super-gak pede juga. I was born and raised di lingkungan yang di mana strata dan materi itu penting. Tanpa itu semua, kamu bukan siapa-siapa. Dan itu menciptakan sebuah tekanan tersendiri buatku.

Belum lagi karakter bapakku yang super-strict about everything. Aku masih inget banget sampai sekarang kalau aku udah nggak dibolehin nge-band pas udah kelas 3 dan itu rasanya sediiiih banget. I love music and band was my life. Aku agak lumayan terpukul juga sih.

Move on from music topic. Sikap dan tingkah lakuku yang super-defensive itu masih terbawa sampai kuliah, karena kebetulan aku juga masih satu kos dengan anak-anak satu sekolahku dulu. Jadi aku bener-bener super-nyebelin saat itu. Bener-bener egois.

Sanpai aku merasakan masuk ke dunia kerja, di mana aku merasa mulai dianggap "orang". Maksudnya, aku nggak perlu merasakan tekanan bahwa aku harus kelihatan hebat, pintar, atau dapat nilai lebih bagus dari si A, B, dan lainnya. Aku hanya perlu menjadi diri sendiri. Yang aku sadari saat itu adalah: aku bisa melakukan itu semua tanpa harus usaha banyak. Effortless.

Maksudku begini. Aku baru menyadari dunia itu sangat luas ketika aku melihat banyak sekali manusia yang mempunyai skill atau kemampuan tidak sebanyak yang aku punya, tapi mempunyai rasa percaya diri yang tinggi dan lebih songong daripada aku. LOL.

Hal itu membuatku seperti, "Apaan sih? Biasa aja kali." 

Tapi itu juga yang membuat aku tersadar, "Eh kalau mereka yang punya kemampuan lebih kurang dari aku tapi lebih pede, kenapa aku yang punya kemampuan lebih banyak daripada mereka tidak bikin aku lebih pede juga?" See the concept here?

Aku yang bisa ini-itu, harusnya bisa lebih pede dong daripada mereka? Aku juga belajar untuk mensyukuri nikmat yang udah aku terima dari Allah. Do the best that I can.

Ini yang membuat aku bisa "gas" terus sampai sekarang. Karir aku udah bagus. Gelar ada. Pencapaian-pencapaian yang aku inginkan satu per satu terpenuhi. Kecuali masalah jodoh.

Di sini lah poin lagi yang aku harus garis bawahi untuk diri aku sendiri. Aku masih belum pede. Aku merasa belum pede untuk ngedapetin pasangan hidup yang aku mau. Aku merasa belum deserve dia. Padahal mungkin dia udah nunggu di luar sana untuk diklaim sama aku. Dan mungkin dia juga merasakan hal yang sama. 

Ini PR besar buat aku. Aku harus merasa bisa bener-bener "layak" untuk mendapatkan suami yang seperti aku mau. The fear has  been capturing me in its cage for so long, I forgot how to get out. I feel miserable but I was quite enjoying it. Itu masalahnya. Aku nggak boleh merasa nyaman dengan rasa miserable itu. Aku harus keluar dari situ. Aku harus yakin bahwa aku berhak bahagia. I deserve someone who can make me happy and vice versa. 

Alhamdulillah aku udah menyadari kekuranganku ini. Alhamdulillah aku sudah belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi dan layak mendapatkan pasangan hidup yang aku mau. Mendapatkan pasangan hidup yang layak satu sama lain. We deserve each other and can make each other a better person.