Sunday, March 6, 2022

Kapabilitasku

 

For a whole life, aku baru menyadari bahwa aku sebenernya punya potensi untuk lebih baik, termasuk dalam bidang akademisi. Tapi ternyata gairah aku untuk mencapai achievement setinggi itu, nggak ada. Kenapa? Mungkin karena aku lelah menjadi orang yang ambisius dan kompetitif.

Aku pernah mengalami yang namanya mendapatkan nilai 9 secara konsisten di matpel Bahasa Inggris waktu SD, dan matpel Sejarah waktu SMP. Hasilnya? Aku stres.

Aku seperti dihadapkan pada tekanan yang tidak berkesudahan, jadi pada akhirnya aku memutuskan untuk "mundur" dari dunia persaingan di sekolah dan memilih untuk menjadi biasa-biasa saja. 

Otakku sendiri sudah cukup penuh. Jika diibaratkan dengan kota megapolitan, otakku ini penuh dengan kebisingan dan semua bergerak dalam waktu yang bersamaan ke arah yang berbeda-beda. Jadi kalau aku ingin memfokuskan pikiranku kepada sesuatu (contoh: belajar), aku harus berani "menarik" satu benang di antara tumpukan benang kusut di dalam otakku dan menariknya ke materi yang ada di hadapanku. Dan itu cukup membuatku pusing. Yang pada akhirnya membuatku... malas. Respon "fight or flight" yang aku ambil: flight.

Ini lah sebabnya aku malas belajar, atau belajar menyelesaikan sesuatu dengan serius. Karena aku merasa "berat" menarik benang yang ada di dalam otakku dan menatanya menjadi sesuatu yang rapi dan konsisten. 

Ini lah sebabnya aku senang tidur. Karena otakku yang aktif, ibarat komputer, otakku susah sekali "shut down". Bahkan ketika tidur saja aku bisa merasa "bekerja", hingga terbawa mimpi. 

Ini yang membuat orang tuaku berpikir, bahwa aku itu tidak lebih pintar daripada adikku. Dan selama seumur hidupku, aku membiarkan mereka berpikir seperti itu. Karena hidup di bawah tekanan ternyata membuatku tidak santai menjalani kehidupan. Ini juga yang membuatku "bandel" dan senang bolos sekolah atau kelas saat kuliah. Karena menurutku membolos itu menyenangkan, dan belajar itu membosankan.  

Itu lah sebabnya aku memilih untuk berhenti kursus gitar klasik. Itu lah sebabnya aku tidak mau meneruskan kursus pianoku. Itu lah sebabnya aku nggak suka mempelajari ekonomi dan akuntansi. Karena aku nggak punya motivasi. Dan menurutku, sepertinya sudah tidak ada lagi tantangan buatku di situ.

Seandainya saja dulu orang tuaku tahu cara menangani kemampuanku, mungkin aku jauh lebih berprestasi daripada adikku. Tapi saat ini aku sudah tidak mau berandai-andai sih. Karena aku sudah cukup bahagia dengan keadaan dan prestasi-prestasi yang aku capai sejauh ini.

Mungkin di ke depannya, kalau aku punya pasangan hidup yang full support dan mengerti kondisiku ini, bisa jadi aku belajar untuk lebih serius dalam mengerjakan sesuatu, dan belajar "menarik" benang dari otakku tanpa merasa harus "lari" dari sesuatu di hadapanku.

Mungkin suatu hari aku akan benar-benar belajar dan menghargai proses belajarku sehingga bisa meraih full achievement. Siapa yang tahu?

Sunday, February 20, 2022

Tired Of Family Drama

 

Aku udah muak sama semua ini. Pengen rasanya keluar dari rumah. Udah capek sama drama keluargaku yang nggak berkesudahan. 

Aku lelah jadi boneka di rumah ini. Dibodoh-bodohin segala macem. Kecewa setengah mati. Aku berharap suatu hari nanti aku bisa fokus mengurus keluargaku sendiri -- suami dan anak-anakku, tanpa harus mengurus keluarga lamaku. Aku udah capek. Lelah.

Udah gak ada yang bisa diharapkan. Sampai kapanpun aku cuma kayak orang goblok di keluarga ini. Dianggap bukan siapa-siapa. Mau sekeras apapun aku berusaha. 

Screw this. Sick of this b*llshit. Aku udah gak mau peduli lagi sama keluarga ini.


Friday, December 31, 2021

When the love grows...

Beberapa hari ini aku berpikir agak serius... Tentang semua yang udah aku alami selama 2021 berjalan.

Dan, ya, ada beberapa hal yang aku sesali dan itu tidak bisa aku tarik kembali. Aku juga menyesali beberapa kebodohanku yang mungkin akan jadi pembelajaran besar selama hidupku.

That mistakes have been done and there's nothing I can do about it. All I can do is move forward and have the lesson learned for the rest of my life.

Dan... seperti yang udah kalian baca di blog-ku sebelumnya, aku sedang menyukai seseorang. Well, agak lucu sih sebenernya kalau aku bilang aku menyukainya, because I haven't met him in more than 20 years. And yet I feel so close to him. As the days getting by, aku ngerasa kayaknya kok makin lama makin sayang sama dia. 

Mudah-mudahan ini semua bisa bergerak menuju ke arah yang lebih baik. I hope so. Aamiin.


2022, please be kind.

Tuesday, December 14, 2021

Sibling problem??

Jujur aku kecewa dengan adikku.

Dia itu anak laki-laki dan harusnya bisa lebih tanggung jawab dengan sikapnya. Jaga ucapannya. Jaga emosinya. 

I never thought that I would be this disappointed with my own brother, much less having a big argument with him.

Dari mana dia bisa berpikir bahwa hidupku enak? Emangnya dia tahu kalau aku udah mengalami pahit segala macem tahun ini? Emangnya dia tahu gimana perjalanan aku di kantor? Gimana perjuangan aku untuk bertahan selama ini?

I've been trying so hard to keep up with my own problems, struggling hard enough to return my sanity over everything. And yet my own brother judges me and blames me for not being a good person. 

I may not be a saint, but I want to be the best that I can. I want to keep doing good things. 

Semoga saja pintu hati dan pikiran adikku terbuka. Semoga saja dia segera 'matang' dalam berpikir.

Sunday, December 12, 2021

Dilema??

By the time aku posting kemarin, tau-tau dia bikin status di insta story. Awalnya aku pengen jaim, eehh malamnya ya keteken juga. 

Aku baru sadar dia pake kemeja warna biru gelap... which is... bikin dia keliatan super-cute! 

Aaarghh siaal... dilema berkepanjangan deh.

Sekali-sekali bales kek whatsapp aku. :(

Saturday, December 11, 2021

I have no value?

Aku kebingungan.

Aku pikir aku bisa melakukannya. Ternyata aku masih bertanya-tanya sampai sekarang. The guy. Yup, masih cowok yang sama yang aku bahas terakhir, masih tidak meresponku.

I'm wondering if he considers me as a woman with no value? Seburuk itu aku ya?

Mungkin standarnya dia terlalu tinggi sehingga menganggap aku bukan siapa-siapa. Jadi mungkin sebaiknya untuk saat ini aku mundur dulu aja.

Aku sih tidak bermaksud mengejarnya. Aku cuma pengen dia notice kalau ada aku nih di sini. Tapi sepertinya aku memang harus menyerahkan semuanya sama Yang Di Atas.

Kalau memang untuk aku, ya dia akan untuk aku. Gitu aja.

Sunday, November 28, 2021

Kehilangan

 I just lost one of my team members yesterday and it was quite devastating.

Aku nggak pernah terpikir bahwa bawahanku ini bisa mempunyai kisah cinta yang sedih seperti ini. Kinerjanya sudah menurun sejak istrinya meninggal tahun lalu. Setelah aku bicara dengan anaknya kemarin, aku langsung menyadari bahwa he was brokenhearted and overwhelmingly lost in his mind. Dibalut dengan rasa bersalah karena tidak memenuhi tanggung jawabnya sebagai seorang suami, dia sampai rela kehilangan nyawanya untuk bisa menyusul istrinya ke akhirat.

Don't you think it's like a tragic love story? 

I learned a whole new level for love and responsibility as a husband and wife from him. Bahwa ternyata untuk menjadi suami dan istri itu nggak cuma melulu sekedar kelihatan ke mana-mana berdua, trus bikin anak, trus keliatan mewah dengan segala materi yang ada. Tapi memang tanggung jawab yang diemban benar-benar dibawa sampai ke hadapan Yang Maha Kuasa. Dan kurasa bawahanku ini sadar.

Aku rasa dia pengen minta maaf sama almarhum istrinya, menyadari kesalahannya dan tidak bisa memenuhi tanggung jawabnya dengan baik, pengen nangis senangis-nangisnya. Aku bahkan nggak bisa ngomong apa-apa lagi. Bingung.

Saat ini aku cuma berdoa semoga almarhum diberikan ketenangan di sana, diampuni segala dosanya, dan terkabul doanya untuk bisa ketemu dengan istrinya lagi dan meminta maaf sama istrinya. Al-Fatihah.