For a whole life, aku baru menyadari bahwa aku sebenernya punya potensi untuk lebih baik, termasuk dalam bidang akademisi. Tapi ternyata gairah aku untuk mencapai achievement setinggi itu, nggak ada. Kenapa? Mungkin karena aku lelah menjadi orang yang ambisius dan kompetitif.
Aku pernah mengalami yang namanya mendapatkan nilai 9 secara konsisten di matpel Bahasa Inggris waktu SD, dan matpel Sejarah waktu SMP. Hasilnya? Aku stres.
Aku seperti dihadapkan pada tekanan yang tidak berkesudahan, jadi pada akhirnya aku memutuskan untuk "mundur" dari dunia persaingan di sekolah dan memilih untuk menjadi biasa-biasa saja.
Otakku sendiri sudah cukup penuh. Jika diibaratkan dengan kota megapolitan, otakku ini penuh dengan kebisingan dan semua bergerak dalam waktu yang bersamaan ke arah yang berbeda-beda. Jadi kalau aku ingin memfokuskan pikiranku kepada sesuatu (contoh: belajar), aku harus berani "menarik" satu benang di antara tumpukan benang kusut di dalam otakku dan menariknya ke materi yang ada di hadapanku. Dan itu cukup membuatku pusing. Yang pada akhirnya membuatku... malas. Respon "fight or flight" yang aku ambil: flight.
Ini lah sebabnya aku malas belajar, atau belajar menyelesaikan sesuatu dengan serius. Karena aku merasa "berat" menarik benang yang ada di dalam otakku dan menatanya menjadi sesuatu yang rapi dan konsisten.
Ini lah sebabnya aku senang tidur. Karena otakku yang aktif, ibarat komputer, otakku susah sekali "shut down". Bahkan ketika tidur saja aku bisa merasa "bekerja", hingga terbawa mimpi.
Ini yang membuat orang tuaku berpikir, bahwa aku itu tidak lebih pintar daripada adikku. Dan selama seumur hidupku, aku membiarkan mereka berpikir seperti itu. Karena hidup di bawah tekanan ternyata membuatku tidak santai menjalani kehidupan. Ini juga yang membuatku "bandel" dan senang bolos sekolah atau kelas saat kuliah. Karena menurutku membolos itu menyenangkan, dan belajar itu membosankan.
Itu lah sebabnya aku memilih untuk berhenti kursus gitar klasik. Itu lah sebabnya aku tidak mau meneruskan kursus pianoku. Itu lah sebabnya aku nggak suka mempelajari ekonomi dan akuntansi. Karena aku nggak punya motivasi. Dan menurutku, sepertinya sudah tidak ada lagi tantangan buatku di situ.
Seandainya saja dulu orang tuaku tahu cara menangani kemampuanku, mungkin aku jauh lebih berprestasi daripada adikku. Tapi saat ini aku sudah tidak mau berandai-andai sih. Karena aku sudah cukup bahagia dengan keadaan dan prestasi-prestasi yang aku capai sejauh ini.
Mungkin di ke depannya, kalau aku punya pasangan hidup yang full support dan mengerti kondisiku ini, bisa jadi aku belajar untuk lebih serius dalam mengerjakan sesuatu, dan belajar "menarik" benang dari otakku tanpa merasa harus "lari" dari sesuatu di hadapanku.
Mungkin suatu hari aku akan benar-benar belajar dan menghargai proses belajarku sehingga bisa meraih full achievement. Siapa yang tahu?

