Monday, May 9, 2022

Kok lama-lama pegel?

Aku mulai pasrah deh.

Kesel iya. Sebel iya. Kayaknya udah berusaha sabaaaar banget. Ya udah sih. Si cowok ini memang katanya tertutup banget. Udah gitu semua kayaknya ikut-ikutan nutup-nutupin.

Aku heran. Serius. 

Dia sakit, diopname. Trus sebagai teman aku nggak boleh jenguk ya?? Asli. Aku dianggap kayak orang asing banget ya?

Dan dulu aku pernah ngalamin hal seperti ini juga. Dan aku lama-lama pegel. Karena yang di sana nggak mau terbuka sama aku. Trus aku ini mesti gimana?

Aku mikirnya dari kemarin cuma gini. Simple.

Aku tuh temen sma dia. Sesusah itu ya tinggal ngobrol kayak biasa, kayak ke temen-temen sma yang lain? Am I totally a stranger to you??

Hari ini juga digituin lagi. Dia di sana di-protect banget. Aku udah kayak orang bego, mau jenguk dia aja nggak dibolehin. Ini yang bikin pegel.

Ini yang bikin aku ngerasa di-reject. Bikin anxiety aku kumat. Capek. Asli.

Kalau lama-lama aku masa bodoh trus gimana?

Ini aku pegel loh kayak gini terus!

Friday, May 6, 2022

Matters in Life

Aku tuh capek banget deh.

Memang sih, lebaran nggak ke mana-mana. Aku cuma capek dengan situasi di mana teman yang kuanggap deket nggak ngucapin selamat lebaran dong? Kalau kayak gini kan orang nganggepnya aku yang aneh. Atau balikinnya, “Ya udah, elo aja yang ngucapin duluan.” 

Tapi makasih, enggak deh.

Aku sedang berada di fase nge-filter teman soalnya. Mana yang bener tulus mau temenan sama aku, atau cuma mau kepo doang. Yang kepo itu biasanya kalau ada maunya aja, baru nyari aku. 

Yang kadang bikin bingung ya, kok bisa-bisanya ada yang berani minta duit ke aku padahal aku nggak ada hubungan sodara sama dia. Sementara dia katanya punya bisnis bagus dan anak-anaknya katanya pada kerja di luar negeri. Kan bisa minta duit sama anak-anaknya dong?

Belum lagi, ada yang hobinya ngomentarin dan nyuruh aku supaya hidupku begini-begitu. Padahal dia sendiri ngendon di rumah nggak jelas. Cukup control freak juga. Negatif banget juga.

Ada juga temenku yang hilang entah ke mana. Tapi nanti kalau dicari, alasannya ini-lah, itu-lah. Kok kesannya kayak dia doang yang bisa sibuk. Yang lainnya pengangguran nggak jelas. Aku sih mikir mana ada orang sesibuk itu sampai nggak punya waktu untuk ngebales message. Aneh.

Yang terakhir kemarin anxiety-ku kumat. Karena aku nge-DM my favorite person. Ceritanya aku mau ngucapin selamat lebaran. Entah kenapa jawabannya terkesan “dingin” dan aku langsung ketakutan. Aku mundur teratur dan pergi. Entah kenapa jawaban dia men-trigger sesuatu di masa lalu yang seolah seperti muntahin kalimat, “Lu siapa sih? Lu nggak penting buat gue.” Dua hari aku nangis nggak karuan di kamar gara-gara ini. Aku takuuut banget ditolak. Takuuut banget dia nggak mau sama aku. Padahal aku udah sayang sama dia. Aku udah sampai di titik pasrah sama Allah. Aku udah nggak tahu mau gimana lagi soalnya. Aku mikir kalau emang kami berdua jodoh ya nanti bakal bersatu juga. 

Ya Allah, ampun hamba-Mu yang terlalu penakut ini.

Kalau udah begini aku banyak istighfar dan berusaha untuk mensyukuri keadaan. Jadi supaya aku nggak berada di titik low vibration. Aku emang kerasa banget labilnya. Di samping aku juga lagi pms. Ngeselin deh. Jadi sering senewen sendiri. 

Semoga ini cepat berlalu ya. 

Sunday, March 6, 2022

Kapabilitasku

 

For a whole life, aku baru menyadari bahwa aku sebenernya punya potensi untuk lebih baik, termasuk dalam bidang akademisi. Tapi ternyata gairah aku untuk mencapai achievement setinggi itu, nggak ada. Kenapa? Mungkin karena aku lelah menjadi orang yang ambisius dan kompetitif.

Aku pernah mengalami yang namanya mendapatkan nilai 9 secara konsisten di matpel Bahasa Inggris waktu SD, dan matpel Sejarah waktu SMP. Hasilnya? Aku stres.

Aku seperti dihadapkan pada tekanan yang tidak berkesudahan, jadi pada akhirnya aku memutuskan untuk "mundur" dari dunia persaingan di sekolah dan memilih untuk menjadi biasa-biasa saja. 

Otakku sendiri sudah cukup penuh. Jika diibaratkan dengan kota megapolitan, otakku ini penuh dengan kebisingan dan semua bergerak dalam waktu yang bersamaan ke arah yang berbeda-beda. Jadi kalau aku ingin memfokuskan pikiranku kepada sesuatu (contoh: belajar), aku harus berani "menarik" satu benang di antara tumpukan benang kusut di dalam otakku dan menariknya ke materi yang ada di hadapanku. Dan itu cukup membuatku pusing. Yang pada akhirnya membuatku... malas. Respon "fight or flight" yang aku ambil: flight.

Ini lah sebabnya aku malas belajar, atau belajar menyelesaikan sesuatu dengan serius. Karena aku merasa "berat" menarik benang yang ada di dalam otakku dan menatanya menjadi sesuatu yang rapi dan konsisten. 

Ini lah sebabnya aku senang tidur. Karena otakku yang aktif, ibarat komputer, otakku susah sekali "shut down". Bahkan ketika tidur saja aku bisa merasa "bekerja", hingga terbawa mimpi. 

Ini yang membuat orang tuaku berpikir, bahwa aku itu tidak lebih pintar daripada adikku. Dan selama seumur hidupku, aku membiarkan mereka berpikir seperti itu. Karena hidup di bawah tekanan ternyata membuatku tidak santai menjalani kehidupan. Ini juga yang membuatku "bandel" dan senang bolos sekolah atau kelas saat kuliah. Karena menurutku membolos itu menyenangkan, dan belajar itu membosankan.  

Itu lah sebabnya aku memilih untuk berhenti kursus gitar klasik. Itu lah sebabnya aku tidak mau meneruskan kursus pianoku. Itu lah sebabnya aku nggak suka mempelajari ekonomi dan akuntansi. Karena aku nggak punya motivasi. Dan menurutku, sepertinya sudah tidak ada lagi tantangan buatku di situ.

Seandainya saja dulu orang tuaku tahu cara menangani kemampuanku, mungkin aku jauh lebih berprestasi daripada adikku. Tapi saat ini aku sudah tidak mau berandai-andai sih. Karena aku sudah cukup bahagia dengan keadaan dan prestasi-prestasi yang aku capai sejauh ini.

Mungkin di ke depannya, kalau aku punya pasangan hidup yang full support dan mengerti kondisiku ini, bisa jadi aku belajar untuk lebih serius dalam mengerjakan sesuatu, dan belajar "menarik" benang dari otakku tanpa merasa harus "lari" dari sesuatu di hadapanku.

Mungkin suatu hari aku akan benar-benar belajar dan menghargai proses belajarku sehingga bisa meraih full achievement. Siapa yang tahu?

Sunday, February 20, 2022

Tired Of Family Drama

 

Aku udah muak sama semua ini. Pengen rasanya keluar dari rumah. Udah capek sama drama keluargaku yang nggak berkesudahan. 

Aku lelah jadi boneka di rumah ini. Dibodoh-bodohin segala macem. Kecewa setengah mati. Aku berharap suatu hari nanti aku bisa fokus mengurus keluargaku sendiri -- suami dan anak-anakku, tanpa harus mengurus keluarga lamaku. Aku udah capek. Lelah.

Udah gak ada yang bisa diharapkan. Sampai kapanpun aku cuma kayak orang goblok di keluarga ini. Dianggap bukan siapa-siapa. Mau sekeras apapun aku berusaha. 

Screw this. Sick of this b*llshit. Aku udah gak mau peduli lagi sama keluarga ini.


Friday, December 31, 2021

When the love grows...

Beberapa hari ini aku berpikir agak serius... Tentang semua yang udah aku alami selama 2021 berjalan.

Dan, ya, ada beberapa hal yang aku sesali dan itu tidak bisa aku tarik kembali. Aku juga menyesali beberapa kebodohanku yang mungkin akan jadi pembelajaran besar selama hidupku.

That mistakes have been done and there's nothing I can do about it. All I can do is move forward and have the lesson learned for the rest of my life.

Dan... seperti yang udah kalian baca di blog-ku sebelumnya, aku sedang menyukai seseorang. Well, agak lucu sih sebenernya kalau aku bilang aku menyukainya, because I haven't met him in more than 20 years. And yet I feel so close to him. As the days getting by, aku ngerasa kayaknya kok makin lama makin sayang sama dia. 

Mudah-mudahan ini semua bisa bergerak menuju ke arah yang lebih baik. I hope so. Aamiin.


2022, please be kind.

Tuesday, December 14, 2021

Sibling problem??

Jujur aku kecewa dengan adikku.

Dia itu anak laki-laki dan harusnya bisa lebih tanggung jawab dengan sikapnya. Jaga ucapannya. Jaga emosinya. 

I never thought that I would be this disappointed with my own brother, much less having a big argument with him.

Dari mana dia bisa berpikir bahwa hidupku enak? Emangnya dia tahu kalau aku udah mengalami pahit segala macem tahun ini? Emangnya dia tahu gimana perjalanan aku di kantor? Gimana perjuangan aku untuk bertahan selama ini?

I've been trying so hard to keep up with my own problems, struggling hard enough to return my sanity over everything. And yet my own brother judges me and blames me for not being a good person. 

I may not be a saint, but I want to be the best that I can. I want to keep doing good things. 

Semoga saja pintu hati dan pikiran adikku terbuka. Semoga saja dia segera 'matang' dalam berpikir.

Sunday, December 12, 2021

Dilema??

By the time aku posting kemarin, tau-tau dia bikin status di insta story. Awalnya aku pengen jaim, eehh malamnya ya keteken juga. 

Aku baru sadar dia pake kemeja warna biru gelap... which is... bikin dia keliatan super-cute! 

Aaarghh siaal... dilema berkepanjangan deh.

Sekali-sekali bales kek whatsapp aku. :(